Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR”

Gambar
FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR” (Sebuah esai puitis-filosofis tentang adat Belis di Bampalola, Alor, NTT) Nafas Adat dan Martabat Perempuan di Bampalola "Gong dan Moko: Nada Cinta di Tanah Raja" Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu beratap ilalang, di kaki Gunung Raja, malam turun perlahan seperti doa yang menetes dari langit. Di tengah ruangan sederhana itu, duduklah para sulung suku Afen, suku yang bergelar Raja, penjaga jejak pertama kehidupan di bumi Bampalola. Di hadapan mereka, di atas meja kayu, terletak benda-benda sakral: Gong dan Moko, dua pusaka yang tidak sekadar logam, melainkan gema sejarah, pantulan suara arwah leluhur yang masih berbisik dalam angin malam. Percakapan dimulai dengan nada rendah, pelan, berat, dan penuh makna. Mereka tidak sekadar membicarakan belis atau mahar untuk sebuah pernikahan, tetapi menimbang keseimbangan semesta: hubungan antara laki-laki dan perempuan, antara raja dan panglima, antara bumi dan langit. Karena bagi orang Bampalola,...

MENCARI MAKNA DALAM LELAHNYA KURIKULUM

Gambar
Dalam Sunyi Kelas, Kurikulum Terus Berganti Sebuah Essay Puitis & Kritis yang lahir dari renungan mendalam seorang Guru di Pojok Negeri Di negeri kepulauan yang dibaptis sejarah dan derita ini, pendidikan adalah jantung yang terus berdegup, namun sering kali tak didengar detaknya. Kurikulum di Indonesia bukan sekadar perangkat belajar. Ia adalah cermin zaman, refleksi kekuasaan, arah politik, dan harapan yang sering digadaikan. Sejak 1947, ketika bangsa baru saja menyeka darah dari wajahnya, lahirlah Rencana Pelajaran pertama. Sederhana, penuh semangat nasionalisme, kurikulum ini bukan hanya mengajarkan hitungan dan ejaan, tetapi juga rasa, adalah rasa menjadi Indonesia yang merdeka, yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan watak, bukan hanya angka. Tahun-tahun berlalu. 1952, 1964 rencana demi rencana terurai. Dibubuhi moral, keterampilan dan emosi. Sekolah tak lagi ruang diam, tapi ladang pembentukan jiwa dan raga. Namun gelombang politik tak pernah diam. 1968 datang, dan bersama den...