Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

TAKFĪR ANTARA IMAN, AKAL, DAN ETIKA

Gambar
TAKFĪR ANTARA IMAN, AKAL, DAN ETIKA Telaah Teologis-Filosofis atas Perbedaan Aliran dalam Islam Pendahuluan Dalam khazanah pemikiran Islam, tidak ada kata yang lebih berat daripada kata kafir. Ia bukan sekadar istilah teologis, melainkan vonis ontologis: menentukan siapa yang berada di dalam cahaya iman dan siapa yang terlempar ke luar pagar keselamatan. Karena itu, takfīr—tindakan mengafirkan—menjadi tema yang senantiasa menggetarkan nalar ulama, menggugah hati para sufi, dan menguji kedewasaan umat. Al-Qur’an sendiri memperingatkan bahaya penghakiman iman secara gegabah: “Janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu: ‘Engkau bukan seorang mukmin’” (QS. an-Nisā’: 94).   Ayat ini menjadi fondasi etik bahwa iman bukan sekadar objek penilaian hukum, melainkan rahasia batin yang dijaga oleh keadilan Ilahi. Ahlussunnah wal Jamā‘ah: Jalan Tengah yang Sunyi Ahlussunnah wal Jamā‘ah (Aswaja) berdiri sebagai penjaga keseimbangan antara teks dan akal, an...

Hukum Mengucapkan Natal Bagi Orang Islam

Gambar
**BAB II - KAJIAN PUSTAKA** A. Konsep Akidah dalam Islam Akidah merupakan fondasi utama dalam bangunan ajaran Islam. Secara terminologis, akidah adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati, bersifat pasti, dan tidak bercampur dengan keraguan. Dalam Islam, akidah berpuncak pada konsep tauhid, yakni pengesaan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya.¹ Al-Qur’an menegaskan bahwa tauhid adalah inti dakwah seluruh nabi, sekaligus pembeda tegas antara iman dan kekufuran.² Setiap keyakinan yang bertentangan dengan tauhid, termasuk konsep ketuhanan Isa Al-Masih sebagaimana diyakini dalam doktrin Kristen, secara tegas ditolak oleh Islam.³ Oleh karena itu, dalam perspektif akidah Islam, pengakuan terhadap keyakinan tersebut—baik secara eksplisit maupun simbolik—dipandang sebagai pelanggaran prinsip tauhid. Dalam konteks hubungan lintas agama, para ulama menegaskan bahwa penjagaan akidah (ḥifẓ al-dīn) menempati posisi tertinggi dalam hierarki maqāṣid al-syarī‘ah.⁴ Prinsip ini menj...

Natal antara Dogma dan Toleransi

Gambar
Natal antara Dogma dan Toleransi Suatu Esai Filosofis dalam Perspektif Lintas Iman Natal hadir setiap tahun bukan sekadar sebagai penanda waktu, melainkan sebagai peristiwa makna. Ia lahir di persimpangan yang halus antara dogma dan toleransi, antara keyakinan yang teguh dan kemanusiaan yang lapang. Di sanalah manusia beriman diuji: sejauh mana ia mampu setia pada akidahnya, tanpa meniadakan martabat keyakinan orang lain. Dogma adalah akar. Ia menancap ke dalam tanah iman, memberi identitas dan arah. Tanpa dogma, agama kehilangan wajahnya. Namun toleransi adalah cabang yang menjulur ke langit kemanusiaan, memberi teduh bagi siapa pun yang berlalu. Tanpa toleransi, iman menjelma tembok, bukan jembatan. Dogma: Keteguhan yang Tidak Bisa Ditawar Dalam Islam, dogma tauhid berdiri kokoh sebagai pusat segala keimanan. Allah Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan: “ Katakanlah (Muhammad): Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tida...

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Gambar
MAJID ADANG: JEJAK PANJANG SEORANG ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB Ada manusia yang dilahirkan bukan untuk hidup mulus, melainkan untuk menguji makna keteguhan. Di antara tanah berbatu dan angin asin Alor, pada 7 Agustus 1985, lahirlah seorang anak bernama Majid Adang, anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ia lahir dari rahim kesederhanaan dan doa panjang: dari seorang ayah, Almarhum Zainuddin Ane, guru pemberantasan buta huruf—cikal bakal berdirinya MIS Bampalola —yang juga menggantungkan hidup sebagai buruh panjat kelapa di Kalabahi; dan seorang ibu, Mahadia Asri , ibu rumah tangga yang mengajarkan ketabahan lewat sunyi, dan kesetiaan lewat kerja tanpa panggung. Sejak awal, hidup Majid adalah perjumpaan antara ilmu dan keringat. Antara papan tulis dan batang kelapa. Antara cita-cita dan kenyataan yang seringkali mematahkan langkah—namun tak pernah memadamkan tekad. Pendidikan formalnya bermula di MIS Bampalola (1993–1999) . Di sanalah huruf-huruf pertama dibacanya, ...

Bahasa-Bahasa Nusa Tenggara Timur

Bahasa-Bahasa Nusa Tenggara Timur ( Sebuah Esai Puitis ) Di tanah yang dibentangkan matahari paling awal, Nusa Tenggara Timur berbicara dengan banyak suara. Angin tidak hanya berembus, ia berbahasa.  Batu tidak sekadar diam, ia menyimpan kata. Di Timor, bahasa tumbuh seperti akar lontar:  kuat, tegar, menembus musim kering. Uab Meto mengajarkan keteguhan, Tetun menenun persaudaraan lintas batas, Helong berbisik tentang laut dan kota tua yang belajar bertahan di antara zaman. Di Rote, kata-kata lahir dari gelombang. Bahasa berbunyi seperti petikan sasando, lembut, melingkar, penuh irama. Di sana, manusia belajar bahwa hidup harus seimbang seperti laut yang memberi dan menarik kembali. Flores adalah halaman panjang kisah manusia. Setiap lembah punya lidah sendiri. Manggarai, Ngadha, Lio, Ende, Sikka— bahasa-bahasa yang menyimpan hukum adat, doa kepada leluhur, dan kesabaran perempuan yang menenun waktu ke dalam kain. Lembata, Solor, Adonara menyebut dunia dengan Lamaholot— bahas...

INDONESIAN OTHER CULTURAL HERITAGE

Gambar
INDONESIAN OTHER CULTURAL HERITAGE SYNOPSIS OF TRADITIONAL RITUALS OF NEW RICE EATING (ALA BALOE) IN THE TRADITIONAL VILLAGE OF TULAGADONG - BAMPALOLA VILLAGE - NORTH WEST ALOR SUB-DISTRICT - ALOR REGENCY - EAST NUSA TENGGARA PROVINCE A. BALOE ALA BACKGROUND / NEW RICE EATING RITUALS Around the year 912 The ancestor of BANGPALOL MO, the 27th descendant of the first person on the beloved island of Alor, the ancestor of the KING OF LAND (AFEN FAAE / Afen = King, Faae = Land) and Putri Matahari (BUI FED / Bui = Putri. Fed = Sun), who at that time living in Maebang, the capital city of Bampalola village now. hunting with his hunting dogs to a place called Tula Gadong (Tula: high, Gadong: Hill), when he got to that place the dogs were barking under a large tamarind tree when he was there when he was observed from afar, it was not the game that was found. his dog barked, but there was a moko under a tree that was surrounded by his dog while barking, after arriving clos...

APAKAH ANDA CALON DIKTATOR? KENALI DIRI SEBELUM TERLAMBAT

Gambar
Bayang-Bayang Diktator dalam Diri Seorang Pemimpin Kekuasaan, pada hakikatnya, adalah cermin. Ia memantulkan siapa diri manusia yang sesungguhnya. Di tangan jiwa yang matang, kekuasaan menjelma sebagai amanah. Di tangan jiwa yang rapuh, ia berubah menjadi candu. Dari sinilah, benih-benih kediktatoran tumbuh, bukan semata dari sistem yang rusak, melainkan dari ketakutan manusia sendiri akan kehilangan kendali. Seorang calon diktator sering tidak datang dengan wajah bengis sejak awal. Ia hadir dengan janji, dengan bahasa indah tentang perubahan, dengan retorika seolah ia adalah jawaban dari semua luka kolektif. Namun, pelan-pelan, cinta terhadap kekuasaan menggantikan cinta terhadap kebenaran. Ia tidak lagi memandang jabatan sebagai titipan, tetapi sebagai takdir yang harus dipertahankan dengan segala cara. Ciri pertama calon diktator adalah kegagalannya berdamai dengan kritik. Kritik baginya bukan cermin untuk membenahi diri, melainkan ancaman yang harus dibungkam. Ia lupa b...

Keadilan di ujung Rotan

Gambar
Eki Adang Tareh: Suara Corong Tua dari Bangpalol Di antara kabut pagi yang menggantung di lereng-lereng Alor, ada nama yang tak pernah padam dalam ingatan generasi: Kakek Bakar Adang, yang oleh rakyatnya disapa penuh hormat sebagai Eki Adang Tareh. Ia bukan raja, bukan pejabat besar, tapi suara corong tuanya pernah menggema lebih keras dari petir, dan keadilannya lebih dalam dari jurang di kaki gunung Bangpalol. Dulu, ketika dunia belum seramai kini, ketika jalan masih bertanah liat dan malam hanya diterangi lampu pelita, suara dari corong tua milik Eki Adang menjadi panggilan bagi setiap warga. Di bawah langit sederhana, suaranya menggetarkan dada, mengundang rakyat kecil dari setiap penjuru kampung untuk berkumpul, mendengar, dan mematuhi. Corong itu bukan sekadar alat, tapi simbol kuasa moral—suara yang lahir dari hati yang tulus, bukan dari ambisi kekuasaan. Eki Adang bukanlah penguasa dengan tongkat emas. Ia hanya membawa sebatang rotan, bukan untuk menindas, tapi untu...

Menimbang Manfaat Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi Masyarakat Desa

Gambar
Esai Kritis dan Rasional: Menimbang Manfaat Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi Masyarakat Desa Dalam upaya membangun sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan berdaya saing, pemerintah meluncurkan program MBG — Makan Bergizi Gratis. Program ini digadang-gadang sebagai wujud nyata keberpihakan negara kepada generasi muda dan kelompok rentan, terutama anak-anak sekolah dan masyarakat miskin. Di tengah gempuran isu stunting, kemiskinan ekstrem, dan ketimpangan gizi antara kota dan desa, MBG menjadi harapan baru. Namun, di balik cita-cita mulianya, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana MBG benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa? 1. Latar Belakang dan Tujuan Program Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari kesadaran bahwa gizi adalah pondasi utama kualitas manusia. Anak yang lapar tidak dapat belajar dengan baik; tubuh yang kekurangan gizi tidak dapat tumbuh optimal; dan generasi yang lemah tidak mampu bersaing di masa depan. MBG bertujuan untuk menja...

MBG Warisan Politik?

Gambar
Esai Kritis dan Rasional: Menimbang Manfaat Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi Masyarakat Desa Dalam lanskap pembangunan nasional, kesejahteraan rakyat tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari seberapa sehat dan bergizi rakyatnya. Kesadaran inilah yang melahirkan program MBG — Makan Bergizi Gratis, sebagai salah satu langkah strategis pemerintah untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya. Program MBG hadir sebagai jawaban atas realitas yang masih menyesakkan: tingginya angka stunting, kemiskinan gizi, dan ketimpangan akses pangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di tengah kesenjangan itu, masyarakat desa menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar janji politik yang berlalu bersama musim kampanye. 1. Hak Rakyat, Bukan Hadiah Politik Satu hal penting yang perlu ditegaskan secara rasional dan kritis: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan milik atau ciptaan satu partai politik tertentu. MBG adalah ...

SD NEGERI BOOF - KUANFATU, TTS

Gambar
Esai Puitis dan Filosofis:  “Sekolah di Ujung Angin, Cermin Luka Bangsa” Sumber video : @Melchan Banu Di sebuah lembah kecil yang dipeluk angin kering dari selatan, berdirilah SD Negeri Boof, di Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekolah itu lebih mirip kandang ayam ketimbang rumah ilmu. Atapnya dari seng karatan, bergetar setiap kali angin musim timur melintas. Dindingnya dari pelepah lontar dan cincangan bambu, diikat dengan tali sabut kelapa. Tiangnya dari kayu bulat yang lapuk dimakan waktu, dan lantainya, bukan ubin, bukan semen, melainkan tanah merah yang keras di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan. Namun di ruang yang sederhana itu, ratusan anak-anak kecil datang setiap pagi dengan wajah berseri, membawa mimpi sebesar dunia. Beberapa dari mereka belajar sambil berdiri, bukan karena semangat yang meluap, tetapi karena tak ada meja dan kursi untuk duduk. Yang tersisa hanya beberapa bangku reot, disangga batu, diganjal kayu patah...

Tangga di Punggung Onta: Jejak Seorang Putra Raja Tanah

Gambar
Jejak Langkah Zeth Libing di Kampung Pemali Tangga di Punggung Onta: Jejak Seorang Putra Raja Tanah Esai Filosofis tentang Kepemimpinan Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si di Bampalola Dari Tanah Pantar Menuju Hati Bampalola   Di timur jauh Nusantara, di gugusan pulau-pulau yang diselimuti ombak dan doa, lahirlah seorang pemimpin yang berjalan dengan langkah leluhur. Ia bukan sekadar pejabat yang memegang kekuasaan, tetapi seorang anak tanah yang membawa darah sejarah dan panggilan pengabdian. Namanya Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si , Penjabat Bupati Alor tahun 2024, yang dalam masa kepemimpinannya menorehkan karya tak biasa, membangun tangga seribu di jalan punggung onta menuju kampung tradisional Bangpalol , negeri adat di Tulagadong, Bampalola. Ia datang bukan dengan gemuruh pidato, bukan pula dengan janji politik, tetapi dengan langkah sederhana seorang anak negeri yang pulang membawa harapan. Di pundaknya bukan hanya beban jabatan, tetapi tanggung jawab sejarah: menyambung ...