Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

POLEMIK PEMBANGUNAN MASJID di LILIBA dari Kacamata Lokal NTT

Ketika Adat Mengajari Kita Menahan Diri Penghentian total pembangunan Masjid Darul Amanah di Kelurahan Liliba, Kota Kupang, bukan sekadar urusan izin bangunan. Ia adalah peristiwa sosial yang mengingatkan kita pada satu nilai yang lama hidup di Nusa Tenggara Timur: kerukunan lebih berharga daripada kecepatan. NTT bukan wilayah yang asing dengan perbedaan. Dari Timor, Alor, Flores, hingga Sumba, masyarakat hidup dalam keberagaman suku, bahasa, dan iman. Yang menjaga semua itu tetap utuh bukan sekadar hukum negara, tetapi adat dan kesadaran hidup bersama. Di tanah Timor, orang mengenal prinsip keseimbangan: darat dan laut sama-sama luas, tetapi harus dijaga agar tidak saling melukai. Maknanya sederhana, ruang hidup tidak boleh dikuasai sepihak. Setiap keputusan penting harus melalui musyawarah, sebab harmoni sosial lebih bernilai daripada kemenangan satu pihak. Antropolog NTT Prof. Gregorius Neonbasu, SVD , menyebut bahwa konflik yang dipaksakan tanpa dialog akan meninggalkan luka sosial...

KEBOHONGAN ATAS NAMA AGAMA

Gambar
Masjid, Kejujuran, dan Luka yang Tak Boleh Ditinggalkan Masjid dalam Islam bukan sekadar bangunan dari semen dan batu. Ia adalah rumah Tuhan, tempat sujud manusia yang paling jujur, tempat air mata yang paling ikhlas, dan tempat doa yang paling bersih dari tipu daya. Karena itu, cara membangunnya tidak boleh lebih kotor dari lantai yang akan disujudinya. Ketika niat luhur dirusak oleh manipulasi, ketika tanda tangan dijadikan alat tipu, dan ketika KTP difoto bukan untuk maslahat melainkan untuk rekayasa, maka sesungguhnya yang tercemar bukan hanya dokumen, tetapi kesucian niat itu sendiri. Masjid Tidak Dibangun di Atas Kebohongan Al-Qur’an dengan tegas meletakkan fondasi spiritual pembangunan masjid: “Apakah orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan-Nya itu yang lebih baik, ataukah orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama dia ke dalam neraka Jahannam?” (QS. At-Taubah: 109) Ayat ini...

CALON SEKDA ALOR

Gambar
Sekda Alor: Antara Administrasi, Integritas, dan Arah Masa Depan Daerah Pemilihan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Alor bukanlah sekadar urusan administrasi kepegawaian. Ia adalah keputusan strategis yang akan menentukan bagaimana roda pemerintahan bergerak. Apakah birokrasi menjadi mesin pelayanan publik, atau sekadar prosedur yang kehilangan arah. Sekda bukan kepala dinas. Ia adalah dirigen dari seluruh orkestrasi Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Ia bekerja di balik layar, namun menentukan irama. Karena itu, proses seleksi Sekda seharusnya dibaca sebagai pertarungan gagasan tentang masa depan Alor, bukan sekadar kompetisi nama dan pangkat. Sekda: Jantung Birokrasi Daerah Dalam sistem pemerintahan daerah, Sekda adalah simpul paling krusial. Ia menghubungkan visi politik kepala daerah dengan realitas teknokratis birokrasi. Ia mengoordinasikan perencanaan, penganggaran, evaluasi, hingga disiplin aparatur. Tanpa Sekda yang kuat, bupati sekuat apa pun akan bekerja dalam k...

PARTAI BARU ATAU TIPU DAYA BARU?

Gambar
Deklarasi di Atas Puing: Politik Baru atau Tipu Daya Baru? Partai Gema Indonesia dan Partai Gerakan Rakyat dideklarasikan bukan di tengah kemakmuran, melainkan di atas puing-puing negeri. Puing hutan yang digunduli atas nama investasi. Puing sungai yang berubah menjadi saluran limbah. Puing akal sehat publik yang setiap hari diperkosa oleh korupsi yang dilembagakan. Maka pertanyaannya bukan: mengapa lahir partai baru? Pertanyaan sejatinya adalah: apakah kita masih percaya pada partai politik? Di negeri ini, partai telah lama menjelma pabrik kekuasaan. Ia memproduksi elite, bukan keadilan. Ia mengolah suara rakyat, lalu membuang rakyat setelah pemilu usai. Korupsi bukan penyimpangan, melainkan sistem yang dilanggengkan melalui kompromi, koalisi, dan transaksi gelap. Dalam situasi seperti ini, deklarasi partai baru adalah tindakan politis yang berbahaya. berbahaya jika hanya mengulang kebohongan lama dengan kemasan baru; berbahaya pula bagi status quo jika benar-benar memba...

PERUBAHAN ZAMAN

Gambar
Lahir 1985: Menjadi Saksi Perubahan Zaman dan Tanggung Jawab Generasi Oleh: Majid Adang Saya lahir tahun 1985, pada masa ketika negara terasa begitu kuat dan warga belajar untuk lebih banyak patuh daripada bertanya. Orde Baru adalah zaman stabilitas yang dibangun di atas disiplin, ketertiban, dan tak jarang keheningan. Politik bukanlah ruang diskusi keluarga, melainkan wilayah yang dijaga jarak. Anak-anak dibesarkan dengan satu pesan tak tertulis: hidup baik-baik saja sudah cukup, jangan macam-macam. Di Indonesia saat itu, stabilitas sering dibayar mahal: pembungkaman pers, penyederhanaan partai politik, dan ketakutan kolektif terhadap perbedaan pendapat. Pembangunan memang berjalan, tetapi partisipasi publik dikerdilkan. Negara hadir kuat ke atas, namun jauh ke bawah. Kritik dicurigai, dan keseragaman dipelihara atas nama persatuan. Filsuf Prancis Michel Foucault pernah mengatakan, “ Di mana ada kekuasaan, di situ ada pengetahuan yang diatur. ” Pada masa itu, pengetahuan ...

Makna Filosofis Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Gambar
Makna Filosofis Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Tengah Bencana Ekologis dan Korupsi Tokoh Agama Oleh : Majid Adang Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menembus lapisan langit. Ia adalah peringatan keras dan halus sekaligus bagi umat manusia: tentang arah hidup, tanggung jawab moral, dan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, serta alam semesta. Di tengah bencana ekologis yang kian parah dan krisis moral akibat korupsi tokoh agama, Isra’ Mi’raj kembali menantang nurani umat: apakah kita benar-benar naik secara spiritual, atau justru turun secara moral? 1. Isra’: Spirit Perjalanan, Bukan Pelarian Isra’ adalah perjalanan horizontal: dari satu tempat ke tempat lain. Ini melambangkan tanggung jawab sosial. Nabi tidak langsung “naik ke langit”, tetapi terlebih dahulu melewati realitas bumi: tanah konflik, peradaban, dan sejarah. Dalam konteks hari ini, Isra’ mengingatkan bahwa ibadah tidak bol...