Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

ALA BALOE (UPACARA RITUAL ADAT MAKAN PADI BARU) KAMPUNG PEMALI/BANGPALOL...

ALA BALOE (UPACARA RITUAL ADAT MAKAN PADI BARU) KAMPUNG PEMALI/BANGPALOL... https://bangpaloltulagadong.blogspot.com/2020/11/ala-baloe-upacara-ritual-adat-makan.html

PANCASILA & BUDAYA ALOR

https://madrasahmini99.blogspot.com/2026/06/pancasila-budaya-alor.html

OPINI PUBLIK

Gambar
*OPINI* Antara Durasi yang singkat & Kompetensi Peserta yang diuji. Pengumuman #hasilTes #Kompetensi #KDKMP telah keluar. Fakta bahwa sebagian besar peserta tidak lolos karena tidak mencapai passing grade tentu menjadi perhatian bersama. Situasi ini perlu dilihat secara objektif, bukan sekadar mencari siapa yang salah. Di satu sisi, #panitiapelaksana patut menerima evaluasi terkait teknis pelaksanaan tes, terutama soal durasi waktu. Sejumlah peserta mengaku waktu yang tersedia terlalu singkat dibanding jumlah dan tingkat kesulitan soal. Jika kesaksian ini benar dan dirasakan oleh banyak peserta, maka penyelenggara perlu melakukan kajian ulang agar tes benar-benar mengukur kompetensi, bukan sekadar kemampuan berpacu dengan waktu. Sistem seleksi yang baik harus memberi ruang yang proporsional agar peserta dapat membaca, memahami, lalu menjawab dengan tenang dan adil. Namun di sisi lain, #peserta juga perlu melakukan introspeksi. Masih ada anggapan bahwa tes ini hanyalah #...

MEMAHAMI DIKSI "SYAHID & MARTIR SECARA UTUH

  SYAHID DAN MARTIR MEMAHAMI DIKSI KEAGAMAAN DI TENGAH RUANG PUBLIK DAN PERDEBATAN MEDIA Oleh: Majid Adang   Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh perdebatan mengenai penggunaan diksi “syahid” dalam ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla di lingkungan Universitas Gadjah Mada . Diskusi tersebut kemudian berkembang dalam berbagai forum media dan talkshow televisi dengan menghadirkan narasumber lintas agama. Namun yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah bagaimana istilah “syahid” diperdebatkan lebih sebagai isu sensitif-politik ketimbang sebagai konsep teologis yang memiliki akar sejarah dan makna yang sangat dalam dalam tradisi agama. Sebagian narasumber Muslim tampak menyederhanakan makna syahid hanya pada konteks perang atau kekerasan. Di sisilain, beberapa narasumber Kristen menyatakan bahwa dalam kekristenan tidak dikenal istilah “syahid”, melainkan “martir”. Pernyataan itu memang benar secara terminologi internal agama masing-masing, tetapi...

GENERASI EMAS?

Gambar
“DI ANTARA KURIKULUM YANG BERGANTI, DAN AKHLAK YANG PERLAHAN PERGI” Refleksi seorang guru di pedalaman Saya mengajar di tempat yang jauh dari pusat kebijakan. Di sini, jalan masih tanah, sinyal datang dan pergi sesuka angin, dan papan tulis kadang lebih setia daripada listrik. Namun ada satu hal yang selalu datang tepat waktu: perubahan kurikulum. Dari kejauhan, kami menerimanya seperti menerima musim— datang tanpa bisa ditolak, dibawa dengan bahasa-bahasa besar: transformasi, merdeka belajar, profil pelajar… Semuanya terdengar indah di atas kertas, tetapi sering terasa asing di ruang kelas kami yang sederhana. Saya tidak menolak perubahan. Saya paham zaman bergerak, dan pendidikan tidak boleh tinggal diam. Tetapi yang membuat saya gelisah bukanlah perubahan itu— melainkan arah yang seakan lupa pada hal paling mendasar: membentuk manusia. Anak-anak di depan saya kini semakin cerdas menjawab soal, tetapi semakin sulit memahami sopan santun. Mereka cepat mengakses dunia, teta...

Jalan Rusak Bertahun-tahun, Prioritas Pemerintah Dipersoalkan: Saatnya Kepemimpinan Berpihak pada Rakyat

Gambar
*OPINI PUBLIK* *Jalan Rusak, Akses Terputus, Prioritas Pemerintah Dipertanyakan* Kondisi jalan poros Alor Kecil–Otvae yang tampak pada gambar di atas bukan sekadar kerusakan fisik infrastruktur. Ia adalah potret nyata dari terhambatnya denyut kehidupan masyarakat di delapan desa yang menggantungkan mobilitas ekonomi, pendidikan, dan layanan sosial pada jalur tersebut. *1. Jalan sebagai Nadi Kehidupan* Jalan ini bukan jalan biasa. Ia adalah urat nadi distribusi hasil kebun, akses ke pasar, sekolah, puskesmas, hingga konektivitas menuju pusat pemerintahan di Kokar dan Kalabahi. Ketika jalan rusak parah, berlubang, tergerus air, dan nyaris putus, maka yang terganggu bukan hanya perjalanan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. *2. Ironi Pembangunan yang Terhenti* Secara historis, jalan ini dibangun dengan kerja keras pada masa kepemimpinan terdahulu secara manual, lalu ditingkatkan dengan pengaspalan pada periode berikutnya. Artinya, ada kesinambungan visi p...

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL BAGI SEORANG GURU PEDALAMAN

Gambar
Di Batas Peta, Di Tengah Sunyi Refleksi Hari Pendidikan Nasional dari Seorang Guru Pedalaman Hari Pendidikan Nasional selalu datang dengan gema yang sama, pidato, slogan, dan janji-janji tentang masa depan bangsa yang tercerahkan oleh ilmu. Namun, di batas paling timur negeri ini, di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, gema itu tiba dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak menggema keras di aula berpendingin udara, melainkan merayap pelan di antara dinding pelepah dan anyaman bambu, menembus atap rumbia yang bocor, lalu jatuh perlahan ke lantai tanah tempat anak-anak belajar dengan kaki berdebu dan mata yang menyala. Sebagai seorang guru di ruang sederhana itu, saya sering bertanya, Apakah pendidikan dalam esensinya benar-benar tentang fasilitas? Ataukah ia adalah perjumpaan eksistensial antara harapan dan keterbatasan? Secara filosofis, pendidikan adalah proses menjadi becoming , sebagaimana dipahami dalam tradisi eksistensialisme. Ia bukan sekadar transfer pengetahuan melainka...

Jurnal Refleksi Atas 15 Menit Siswa Menyelesaikan Soal yang disusun Guru selama Seminggu

Gambar
Ironi 15 Menit: Refleksi Atas Dedikasi Guru dan Tantangan Kognitif Siswa Dalam dunia pendidikan, sering kali muncul sebuah fenomena yang cukup ironis bagi seorang pendidik: menghabiskan waktu seminggu penuh untuk merancang satu perangkat soal asesmen sumatif, namun hanya untuk diselesaikan oleh siswa dalam waktu kurang dari 15 menit.  Situasi ini bukan sekadar masalah efisiensi waktu, melainkan sebuah sinyal penting bagi guru untuk melakukan refleksi mendalam terhadap kualitas dan kedalaman instrumen evaluasi yang telah disusun. Penyusunan soal yang memakan waktu lama biasanya mencerminkan ketelitian guru dalam menyesuaikan kisi-kisi, memilih indikator pembelajaran, hingga merangkai kalimat.  Namun, jika siswa mampu menyelesaikannya dengan kecepatan yang tidak lazim, ada kemungkinan terjadi kesenjangan antara standar kompetensi yang diharapkan dengan level kognitif soal yang diberikan. Sering kali, soal-soal tersebut masih terjebak pada ranah kognitif rendah ( Lowe...

Tepuk Tangan Semu di Lembah Jabal Malik

Gambar
Di sebuah panggung yang dihiasi gema ayat-ayat suci, Musabaqah Tilawatil Quran bukan sekadar lomba, ia adalah cermin. Dan di cermin itu, Bampalola tampak bersinar… sekaligus menyimpan retak halus yang tak langsung terlihat. Ini Catatan Kritis dari saya pribadi secara jujur dan adil tanpa tendensi apapun. Kemenangan sebagai juara umum sering kita rayakan seperti puncak gunung. Namun pertanyaannya: apakah kita benar-benar mendaki, atau sekadar diantar ke atas? Ketika 90% peserta berasal dari luar desa, maka kemenangan itu menjadi paradoks: secara simbolik milik Bampalola, namun secara substansi, ia tercerabut dari akar sosialnya sendiri. Karena, Ini bukan sekadar soal aturan lomba, tetapi soal otentisitas prestasi. Dalam perspektif pembangunan SDM, ini menyentuh konsep “capacity ownership”. bahwa kualitas sejati bukan diukur dari hasil instan, melainkan dari siapa yang bertumbuh dalam prosesnya. Bampalola memiliki modal luar biasa: madrasah dari berbagai tingkatan, TPQ, masji...

“Dari Bara ke Nusa: Jejak Api Sejarah yang Tak Pernah Padam”

Gambar
Esai Filosofis-Akademis tentang Sejarah Keberadaan Baranusa di Pulau Pantar Di ufuk timur Nusantara, di antara desir angin Laut Banda dan riak panjang Selat Alor, terbentang sebuah ruang peradaban yang tampak sunyi namun sarat makna: Baranusa, sebuah pusat kehidupan di Pulau Pantar, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Ia bukan sekadar titik geografis, melainkan simpul sejarah, ingatan kolektif, dan kesadaran ekologis yang diwariskan lintas generasi. Baranusa dalam Lanskap Kosmologis Pantar Pulau Pantar sendiri merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Alor yang telah dikenal sejak masa klasik Nusantara. Catatan tertua tentang wilayah ini dapat ditelusuri hingga abad ke-14 dalam kakawin Nagarakertagama, yang menyebut kawasan ini sebagai bagian dari cakrawala pengaruh Majapahit.  Dalam konteks ini, keberadaan Baranusa tidak dapat dilepaskan dari arus besar sejarah maritim Nusantara yang menjadikan pulau-pulau kecil sebagai simpul perdagangan, budaya, dan migrasi. Baranusa,...

FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR”

Gambar
FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR” (Sebuah esai puitis-filosofis tentang adat Belis di Bampalola, Alor, NTT) Nafas Adat dan Martabat Perempuan di Bampalola "Gong dan Moko: Nada Cinta di Tanah Raja" Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu beratap ilalang, di kaki Gunung Raja, malam turun perlahan seperti doa yang menetes dari langit. Di tengah ruangan sederhana itu, duduklah para sulung suku Afen, suku yang bergelar Raja, penjaga jejak pertama kehidupan di bumi Bampalola. Di hadapan mereka, di atas meja kayu, terletak benda-benda sakral: Gong dan Moko, dua pusaka yang tidak sekadar logam, melainkan gema sejarah, pantulan suara arwah leluhur yang masih berbisik dalam angin malam. Percakapan dimulai dengan nada rendah, pelan, berat, dan penuh makna. Mereka tidak sekadar membicarakan belis atau mahar untuk sebuah pernikahan, tetapi menimbang keseimbangan semesta: hubungan antara laki-laki dan perempuan, antara raja dan panglima, antara bumi dan langit. Karena bagi orang Bampalola,...

MENCARI MAKNA DALAM LELAHNYA KURIKULUM

Gambar
Dalam Sunyi Kelas, Kurikulum Terus Berganti Sebuah Essay Puitis & Kritis yang lahir dari renungan mendalam seorang Guru di Pojok Negeri Di negeri kepulauan yang dibaptis sejarah dan derita ini, pendidikan adalah jantung yang terus berdegup, namun sering kali tak didengar detaknya. Kurikulum di Indonesia bukan sekadar perangkat belajar. Ia adalah cermin zaman, refleksi kekuasaan, arah politik, dan harapan yang sering digadaikan. Sejak 1947, ketika bangsa baru saja menyeka darah dari wajahnya, lahirlah Rencana Pelajaran pertama. Sederhana, penuh semangat nasionalisme, kurikulum ini bukan hanya mengajarkan hitungan dan ejaan, tetapi juga rasa, adalah rasa menjadi Indonesia yang merdeka, yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan watak, bukan hanya angka. Tahun-tahun berlalu. 1952, 1964 rencana demi rencana terurai. Dibubuhi moral, keterampilan dan emosi. Sekolah tak lagi ruang diam, tapi ladang pembentukan jiwa dan raga. Namun gelombang politik tak pernah diam. 1968 datang, dan bersama den...