MENCARI MAKNA DALAM LELAHNYA KURIKULUM
Dalam Sunyi Kelas, Kurikulum Terus Berganti
Sebuah Essay Puitis & Kritis yang lahir dari renungan mendalam seorang Guru di Pojok Negeri
1975 memperkenalkan management by objective, yang menjadikan guru manajer tujuan, bukan pendidik yang bernapas. Mereka tenggelam dalam rincian administratif, seperti petani yang lebih sibuk dengan formulir pupuk daripada merawat tanahnya.
Lalu 1984 mencoba membebaskan : Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebuah revolusi. Namun yang aktif seringkali hanya metode, bukan makna yang dicari.
1994 mencoba merangkul masa lalu dan masa kini, tapi malah terperangkap dalam simpang administrasi. Caturwulan, penggantian nama-nama jenjang, semuanya terasa sibuk, namun tetap jauh dari kebutuhan mendasar: apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak untuk hidup?
Lalu 2013: lahir kurikulum karakter. Sikap, keterampilan dan pengetahuan disatukan dalam sistem penilaian. Indah di atas kertas, tapi guru-guru kembali dipaksa menjadi akuntan moral, mengejar nilai-nilai dalam rubrik-rubrik tak bernyawa.
Sebab perubahan kurikulum terlalu sering lahir dari atas, dengan idealisme yang tak menyentuh lantai ruang guru. Guru bukan mesin implementasi, dan siswa bukan wadah yang pasif. Mereka manusia, yang butuh mendengar dan didengar, yang ingin tumbuh, bukan hanya lulus.
Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.
Kurikulum Berbasis Cinta, Merangkai Asa dalam Pelukan Pendidikan
Kini, di persimpangan sejarah, Kurikulum 2013 yang menabur benih karakter, bertemu dengan Kurikulum Merdeka yang merengkuh kebebasan. Dua aliran besar yang hendak menyatu, menjadi satu kurikulum berbasis cinta, cinta pada anak, cinta pada proses, cinta pada masa depan.
Padahal Cinta bukan sekadar kata manis, bukan pula jargon kosong dalam dokumen resmi. Cinta adalah keberanian mendengar, yakni: mendengar guru yang letih dan murid yang bertanya, serta mendengar suara hati yang terselip di antara angka dan target.
Dalam kurikulum yang berbasis cinta, pengetahuan bukan ladang beban, tapi taman eksplorasi. karakter bukan rantai pengekang, tapi akar yang meneduhkan; dan kebebasan belajar bukan kekacauan, melainkan harmoni yang penuh makna.
Namun cinta juga menuntut kritis, agar kurikulum tak hanya jadi wacana indah, tetapi kekuatan nyata di ruang kelas. agar janji kemerdekaan belajar tak terkubur di balik tumpukan silabus dan tuntutan administratif; agar karakter yang dibangun bukan hanya di atas kertas, melainkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Kurikulum berbasis cinta adalah panggilan, untuk menyatukan rasa dan akal, menghormati perbedaan dan potensi unik tiap anak bangsa. Ia menolak pendidikan yang menghakimi, dan memilih jalan pendidikan yang memerdekakan. Karena hanya dengan cinta, kurikulum bisa menjadi jembatan, menghubungkan mimpi dengan kenyataan, guru dengan murid, masa lalu dengan masa depan.
Begitulah kurikulum kita, bukan sekadar aturan, melainkan puisi hidup yang menunggu untuk terus ditulis, dengan tinta cinta dan keberanian.
by; Majid Adang (Guru di Pojok Negeri)

Komentar