MENCARI MAKNA DALAM LELAHNYA KURIKULUM

Dalam Sunyi Kelas, Kurikulum Terus Berganti

Sebuah Essay Puitis & Kritis yang lahir dari renungan mendalam seorang Guru di Pojok Negeri

Di negeri kepulauan yang dibaptis sejarah dan derita ini,
pendidikan adalah jantung yang terus berdegup,
namun sering kali tak didengar detaknya. Kurikulum di Indonesia bukan sekadar perangkat belajar. Ia adalah cermin zaman, refleksi kekuasaan, arah politik,dan harapan yang sering digadaikan.

Sejak 1947, ketika bangsa baru saja menyeka darah dari wajahnya, lahirlah Rencana Pelajaran pertama.
Sederhana, penuh semangat nasionalisme, kurikulum ini bukan hanya mengajarkan hitungan dan ejaan,
tetapi juga rasa, adalah rasa menjadi Indonesia yang merdeka, yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan watak, bukan hanya angka.

Tahun-tahun berlalu. 1952, 1964 rencana demi rencana terurai. Dibubuhi moral, keterampilan dan emosi.
Sekolah tak lagi ruang diam, tapi ladang pembentukan jiwa dan raga.

Namun gelombang politik tak pernah diam. 1968 datang, dan bersama dengan Orde Baru,
pendidikan diseragamkan dalam nama stabilitas. Kurikulum menjadi alat negara, bukan lagi milik siswa dan guru. Budi pekerti ditekankan, tapi siapa yang menentukan nilainya?

1975 memperkenalkan management by objective, yang menjadikan guru manajer tujuan, bukan pendidik yang bernapas. Mereka tenggelam dalam rincian administratif, seperti petani yang lebih sibuk dengan formulir pupuk daripada merawat tanahnya.

Lalu 1984 mencoba membebaskan : Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebuah revolusi. Namun yang aktif seringkali hanya metode, bukan makna yang dicari.

1994 mencoba merangkul masa lalu dan masa kini, tapi malah terperangkap dalam simpang administrasi. Caturwulan, penggantian nama-nama jenjang, semuanya terasa sibuk, namun tetap jauh dari kebutuhan mendasar: apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak untuk hidup?

Tahun 2004 datang sebagai tanda perubahan besar: era reformasi, era demokrasi masuk ke ruang kelas. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lahir, membawa semangat lokalitas dan otonomi.
Sekolah diberi suara, tapi tanpa mikrofon dan Pengeras suara. karena pelatihan, sarana, dan dukungan
seringkali hanya janji dalam dokumen tebal.

2006 memperkuat arah itu dengan KTSP: sekolah sebagai pusat kurikulum. Namun sekali lagi,
kemerdekaan tanpa kesiapan adalah kebingungan yang dilegalkan.

Lalu 2013: lahir kurikulum karakter. Sikap, keterampilan dan pengetahuan disatukan dalam sistem penilaian. Indah di atas kertas, tapi guru-guru kembali dipaksa menjadi akuntan moral, mengejar nilai-nilai dalam rubrik-rubrik tak bernyawa.

Akhirnya, Kurikulum Merdeka (2022) datang membawa janji kebebasan sejati. Ada ruang bagi konteks, ada celah bagi minat, ada suara bagi guru. Namun, seperti namanya, kemerdekaan bukanlah hadiah,
melainkan perjuangan panjang, dan belum semua sekolah punya daya untuk memperjuangkannya.

Kurikulum kita, sepanjang sejarahnya, adalah puisi yang sering tergesa-gesa.
Diksi indah selalu hadir: karakter, kompetensi, Pancasila, diferensiasi, Deeplearning, PBL, PjBL, PTACK dan lain istilah asing nan keren di bibir. Tapi dalam sunyi kelas yang bocor atapnya, di desa yang sinyal internetnya bersembunyi di balik bukit, atau di kota yang muridnya harus kerja sambilan, kata-kata besar itu sering kehilangan makna.

Sebab perubahan kurikulum terlalu sering lahir dari atas, dengan idealisme yang tak menyentuh lantai ruang guru. Guru bukan mesin implementasi, dan siswa bukan wadah yang pasif. Mereka manusia, yang butuh mendengar dan didengar, yang ingin tumbuh, bukan hanya lulus.

Maka, pertanyaannya hari ini bukan sekadar: "Apa kurikulummu?"
Tetapi:
"Untuk siapa kurikulum itu ada?"
"Sudahkah ia menumbuhkan keberanian berpikir?"
"Ataukah hanya mengajari patuh dan mengisi lembar jawaban?"

Pendidikan seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.


Dan kurikulum, seharusnya bukan instruksi kekuasaan, tetapi jembatan antara potensi dan kenyataan. Selama kita terus mengejar bentuk, bukan makna, selama angka lebih dicintai daripada nurani, kurikulum akan terus berganti, tanpa pernah benar-benar berubah. Dan dalam sunyi kelas-kelas kita, anak-anak bangsa masih menunggu: bukan kurikulum baru, tetapi harapan yang benar-benar hidup.

Kurikulum Berbasis Cinta, Merangkai Asa dalam Pelukan Pendidikan

Kini, di persimpangan sejarah, Kurikulum 2013 yang menabur benih karakter, bertemu dengan Kurikulum Merdeka yang merengkuh kebebasan. Dua aliran besar yang hendak menyatu, menjadi satu kurikulum berbasis cinta, cinta pada anak, cinta pada proses, cinta pada masa depan.

Padahal Cinta bukan sekadar kata manis, bukan pula jargon kosong dalam dokumen resmi. Cinta adalah keberanian mendengar, yakni: mendengar guru yang letih dan murid yang bertanya, serta mendengar suara hati yang terselip di antara angka dan target.

Dalam kurikulum yang berbasis cinta, pengetahuan bukan ladang beban, tapi taman eksplorasi. karakter bukan rantai pengekang, tapi akar yang meneduhkan; dan kebebasan belajar bukan kekacauan, melainkan harmoni yang penuh makna.

Namun cinta juga menuntut kritis, agar kurikulum tak hanya jadi wacana indah, tetapi kekuatan nyata di ruang kelas. agar janji kemerdekaan belajar tak terkubur di balik tumpukan silabus dan tuntutan administratif; agar karakter yang dibangun bukan hanya di atas kertas, melainkan dalam tindakan nyata sehari-hari.

Kurikulum berbasis cinta adalah panggilan, untuk menyatukan rasa dan akal, menghormati perbedaan dan potensi unik tiap anak bangsa. Ia menolak pendidikan yang menghakimi, dan memilih jalan pendidikan yang memerdekakan. Karena hanya dengan cinta, kurikulum bisa menjadi jembatan, menghubungkan mimpi dengan kenyataan, guru dengan murid, masa lalu dengan masa depan.

Dan dari pelukan cinta itu, lahir harapan baru, anak-anak Indonesia tumbuh tidak hanya cerdas,
tapi juga berani, tidak hanya pandai, tapi juga peduli, menuju bangsa yang utuh, merdeka, dan bermartabat.

Begitulah kurikulum kita, bukan sekadar aturan, melainkan puisi hidup yang menunggu untuk terus ditulis, dengan tinta cinta dan keberanian.


by; Majid Adang (Guru di Pojok Negeri)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan