Postingan

PANCASILA & BUDAYA ALOR

https://madrasahmini99.blogspot.com/2026/06/pancasila-budaya-alor.html

OPINI PUBLIK

Gambar
*OPINI* Antara Durasi yang singkat & Kompetensi Peserta yang diuji. Pengumuman #hasilTes #Kompetensi #KDKMP telah keluar. Fakta bahwa sebagian besar peserta tidak lolos karena tidak mencapai passing grade tentu menjadi perhatian bersama. Situasi ini perlu dilihat secara objektif, bukan sekadar mencari siapa yang salah. Di satu sisi, #panitiapelaksana patut menerima evaluasi terkait teknis pelaksanaan tes, terutama soal durasi waktu. Sejumlah peserta mengaku waktu yang tersedia terlalu singkat dibanding jumlah dan tingkat kesulitan soal. Jika kesaksian ini benar dan dirasakan oleh banyak peserta, maka penyelenggara perlu melakukan kajian ulang agar tes benar-benar mengukur kompetensi, bukan sekadar kemampuan berpacu dengan waktu. Sistem seleksi yang baik harus memberi ruang yang proporsional agar peserta dapat membaca, memahami, lalu menjawab dengan tenang dan adil. Namun di sisi lain, #peserta juga perlu melakukan introspeksi. Masih ada anggapan bahwa tes ini hanyalah #...

MEMAHAMI DIKSI "SYAHID & MARTIR SECARA UTUH

  SYAHID DAN MARTIR MEMAHAMI DIKSI KEAGAMAAN DI TENGAH RUANG PUBLIK DAN PERDEBATAN MEDIA Oleh: Majid Adang   Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh perdebatan mengenai penggunaan diksi “syahid” dalam ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla di lingkungan Universitas Gadjah Mada . Diskusi tersebut kemudian berkembang dalam berbagai forum media dan talkshow televisi dengan menghadirkan narasumber lintas agama. Namun yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah bagaimana istilah “syahid” diperdebatkan lebih sebagai isu sensitif-politik ketimbang sebagai konsep teologis yang memiliki akar sejarah dan makna yang sangat dalam dalam tradisi agama. Sebagian narasumber Muslim tampak menyederhanakan makna syahid hanya pada konteks perang atau kekerasan. Di sisilain, beberapa narasumber Kristen menyatakan bahwa dalam kekristenan tidak dikenal istilah “syahid”, melainkan “martir”. Pernyataan itu memang benar secara terminologi internal agama masing-masing, tetapi...

GENERASI EMAS?

Gambar
“DI ANTARA KURIKULUM YANG BERGANTI, DAN AKHLAK YANG PERLAHAN PERGI” Refleksi seorang guru di pedalaman Saya mengajar di tempat yang jauh dari pusat kebijakan. Di sini, jalan masih tanah, sinyal datang dan pergi sesuka angin, dan papan tulis kadang lebih setia daripada listrik. Namun ada satu hal yang selalu datang tepat waktu: perubahan kurikulum. Dari kejauhan, kami menerimanya seperti menerima musim— datang tanpa bisa ditolak, dibawa dengan bahasa-bahasa besar: transformasi, merdeka belajar, profil pelajar… Semuanya terdengar indah di atas kertas, tetapi sering terasa asing di ruang kelas kami yang sederhana. Saya tidak menolak perubahan. Saya paham zaman bergerak, dan pendidikan tidak boleh tinggal diam. Tetapi yang membuat saya gelisah bukanlah perubahan itu— melainkan arah yang seakan lupa pada hal paling mendasar: membentuk manusia. Anak-anak di depan saya kini semakin cerdas menjawab soal, tetapi semakin sulit memahami sopan santun. Mereka cepat mengakses dunia, teta...

Jalan Rusak Bertahun-tahun, Prioritas Pemerintah Dipersoalkan: Saatnya Kepemimpinan Berpihak pada Rakyat

Gambar
*OPINI PUBLIK* *Jalan Rusak, Akses Terputus, Prioritas Pemerintah Dipertanyakan* Kondisi jalan poros Alor Kecil–Otvae yang tampak pada gambar di atas bukan sekadar kerusakan fisik infrastruktur. Ia adalah potret nyata dari terhambatnya denyut kehidupan masyarakat di delapan desa yang menggantungkan mobilitas ekonomi, pendidikan, dan layanan sosial pada jalur tersebut. *1. Jalan sebagai Nadi Kehidupan* Jalan ini bukan jalan biasa. Ia adalah urat nadi distribusi hasil kebun, akses ke pasar, sekolah, puskesmas, hingga konektivitas menuju pusat pemerintahan di Kokar dan Kalabahi. Ketika jalan rusak parah, berlubang, tergerus air, dan nyaris putus, maka yang terganggu bukan hanya perjalanan, tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. *2. Ironi Pembangunan yang Terhenti* Secara historis, jalan ini dibangun dengan kerja keras pada masa kepemimpinan terdahulu secara manual, lalu ditingkatkan dengan pengaspalan pada periode berikutnya. Artinya, ada kesinambungan visi p...

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL BAGI SEORANG GURU PEDALAMAN

Gambar
Di Batas Peta, Di Tengah Sunyi Refleksi Hari Pendidikan Nasional dari Seorang Guru Pedalaman Hari Pendidikan Nasional selalu datang dengan gema yang sama, pidato, slogan, dan janji-janji tentang masa depan bangsa yang tercerahkan oleh ilmu. Namun, di batas paling timur negeri ini, di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, gema itu tiba dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak menggema keras di aula berpendingin udara, melainkan merayap pelan di antara dinding pelepah dan anyaman bambu, menembus atap rumbia yang bocor, lalu jatuh perlahan ke lantai tanah tempat anak-anak belajar dengan kaki berdebu dan mata yang menyala. Sebagai seorang guru di ruang sederhana itu, saya sering bertanya, Apakah pendidikan dalam esensinya benar-benar tentang fasilitas? Ataukah ia adalah perjumpaan eksistensial antara harapan dan keterbatasan? Secara filosofis, pendidikan adalah proses menjadi becoming , sebagaimana dipahami dalam tradisi eksistensialisme. Ia bukan sekadar transfer pengetahuan melainka...