Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Tangan-Tangan Kecil yang Menghadirkan Negara di Kaki Gunung

Gambar
Tangan-Tangan Kecil yang Menghadirkan Negara di Ujung Negeri Di kaki Gunung Raja, di Kampung Pemali Bangpalol. yang oleh banyak orang disebut Kampung Tradisional, kami belajar satu rahasia: bahwa Akhir sering kali adalah suatu Permulaan. Tahun 2018, langkah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menjejak tanah tanpa air ini. Bukan sekadar kunjungan, melainkan pengakuan. Revitalisasi Desa Adat Bangpalol adalah penegasan bahwa tradisi bukan bayang-bayang masa lalu, tetapi akar yang menahan kita agar tidak tercerabut dari nilai dan tidak hanyut oleh zaman. Di hari itu, yang ditegakkan bukan hanya simbol adat, tetapi yang ditegakkan adalah martabat. Dan pada 2026, ketika Kementerian Sosial Republik Indonesia hadir melalui Direktur Lansia, membawa pengakuan bagi Yayasan Fajar Insan Sejahtera (YAFIS) Alor serta santunan bagi para lansia dan warga yang kurang mampu, Ada Nilai tersirat disana, yang turun bukan hanya bantuan, Tetapi Pengakuan. Bahwa di Ujung S...

Tujuh Argumentasi Ilmiah tentang Pengeras Suara di Masjid

Gambar
Tujuh Dalil Pengaturan Pengeras Suara pada Tempat Ibadah Pengaturan pengeras suara di masjid dan musala layak diapresiasi, terlepas dari pro dan kontra yang mengitarinya Selain mengajarkan kebaikan, Islam juga mengajarkan kebaikan itu harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mengajak orang lain ibadah itu sangat baik, namun demikian ajakan itu pun harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan pengeras suara atau mikrofon di tempat ibadah seperti masjid dan mushalla.  Dalam hal ini ada 7 dalil atau argumentasi ilmiah tentang pengaturan penggunaan pengeras suara yang layak dipahami dari Kitab I’lâmul Khâsh wal ‘Âmm bi Anna Iz’âjan Nâsi bil Mikrûfûn Harâm (Pemberitahuan Bagi Orang Pintar dan Orang Awam Bahwa Mengganggu orang Lain dengan Mikrofon Hukumnya Haram) karya Sayyid Zain bin Muhammad bin Husain Alydrus, Dosen Universitas Al-Ahgaf Yaman. Pertama, banyak ayat dan hadits yang memerintah untuk memelankan suara dalam shalat, dzi...

NTT “Miskin” di Atas Kertas

Gambar
NTT “Miskin” di Atas Kertas Telaah Kritis atas Pengukuran Kemiskinan dan Ketahanan Sosial Lokal Pendahuluan Nusa Tenggara Timur (NTT) hampir selalu tercantum dalam daftar provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di NTT mencapai sekitar 17,50 persen. Angka ini kerap dipahami secara sederhana sebagai indikator kegagalan pembangunan. Namun, pemahaman tersebut menyimpan persoalan metodologis dan konseptual yang serius: kemiskinan diukur dengan indikator yang sempit dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas sosial-ekonomi masyarakat lokal. Esai ini berargumen bahwa kemiskinan di NTT bersifat statistik dan struktural, bukan semata-mata kemiskinan dalam arti ketidakmampuan bertahan hidup. Dengan menggunakan perspektif ekonomi pembangunan dan sosiologi, tulisan ini menunjukkan bahwa ukuran kemiskinan berbasis pengeluaran gagal menangkap ketahanan sosial, kemandirian subsistensial, dan modal ...

Kota Tua - Alor Kecil

Gambar
Kota Tua di Tanjung Kumbang Jejak Leluhur, Adat, dan Peradaban Islam di Desa Alor Kecil Desa Alor Kecil merupakan salah satu ruang sejarah penting di Pulau Alor yang menyimpan jejak panjang peradaban, perjumpaan budaya, dan nilai-nilai keislaman yang tumbuh secara organik dalam bingkai adat. Dalam bahasa adat lokal, Alor Kecil disebut Laffo Kisu, sementara dalam bahasa Adang dikenal sebagai Bang Atina. Kedua sebutan ini memiliki makna yang sama, yakni kampung kecil. Namun, di balik makna kesederhanaan tersebut, tersimpan kisah besar tentang asal-usul, kepemimpinan, dan kekerabatan lintas etnis yang membentuk wajah sosial Alor hingga hari ini. Pada masa Kerajaan Alor-Bungabali, wilayah Alor Kecil khususnya kawasan Tanjung Kumbang, pernah berdiri sebagai pusat kevetoran dan sekaligus kota pelabuhan laut pertama di Pulau Alor. Dari tanjung inilah jalur laut membuka pintu perjumpaan dengan dunia luar, menjadikan Alor Kecil bukan hanya sebagai kampung pesisir, tetapi sebagai si...

MTQ DAN TIGA BATU TUNGKU DI LEMBAH JABAL MALIK BANGPALOL

Gambar
Tiga Batu Tungku di Panggung Langit Bangpalol Di Bangpalol, Kampung Pemali, Alor Nusa Tenggara Timur, panggung MTQ tidak sekadar berdiri, tetapi ia dihadirkan. Ia tidak tumbuh dari besi dan beton, melainkan dari ingatan kolektif, dari anyaman nilai, dari napas adat yang telah lama hidup sebelum negara memberi nama pada upacara. MTQ adalah kegiatan resmi negara, simbol kehadiran pemerintah di ruang iman. Namun di Bangpalol, negara tidak datang dengan wajah tunggal. Ia datang dengan sikap menunduk, bersedia duduk melingkar di atas tiga batu tungku, adat, agama, dan pemerintah, yang selama ini menjadi dasar kehidupan bersama. Atap panggung itu beratapkan ilalang, seperti rumah-rumah yang lahir dari rahim tanah. Ia seolah berkata: agama tidak melayang di langit abstrak, tetapi bernaung di bawah kearifan bumi. Di sinilah Al-Qur’an dilantunkan, bukan di atas marmer dingin, melainkan di atas kayu yang masih mengingat hutan, dan jerami yang masih menyimpan bau hujan. Ornamen di pun...

BANGPALOL - NILAI ABADI LELUHUR

Gambar
BANGPALOL - NILAI ABADI LELUHUR  Tinjauan Filosofis atas warisan abadi Leluhur. Oleh : MZ.Anne Kampung Tradisional Bangpalol di Tulagadong, Desa Bampalola, bukan sekadar kumpulan rumah adat yang berdiri di atas bukit. Ia adalah jejak panjang perjalanan leluhur, ingatan kolektif yang dipahat dalam batu mesbah, tiang rumah, moko, dan kisah-kisah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. 1. Awal Mula: Dari Jejak Leluhur ke Nama “Bangpalol” Dalam tuturan para tetua adat, kisah Bangpalol berawal dari garis leluhur yang sering disebut dalam silsilah lisan:  Mo Afen melahirkan Palo Mo , Palol Mo melahirkan Bang Palol . Dari nama Bang Palol inilah kemudian lahir penamaan Bangpalol, yang kelak menjadi sebutan bagi kampung tradisional di kawasan Tulagadong. Nama itu bukan sekadar identitas, tetapi penanda bahwa kampung ini berdiri di atas satu mata rantai keturunan yang jelas, terhormat, dan dijaga marwahnya. Suatu ketika, menurut kisah yang kerap diulang ...

ALIANSI GALIAU WATANG LEMA - SOLOR WATANG LEMA

Gambar
Bel Basa: Nafas Persatuan dari Galiau ke Solor Dalam alur waktu yang panjang, ketika keturunan Maupelang dari Dinasti Kawiha Tulimau menjejakkan kaki pada masa yang menentukan, etnis Alor menemukan momentum sejarahnya. Kekuatan itu tidak lahir dari pedang semata, melainkan dari kecerdasan membaca dunia, dari kemampuan menjalin kerja sama dagang dengan bangsa Portugis, Belanda, serta Kesultanan Ternate. Perjumpaan dengan dunia luar tidak mengikis jati diri, justru menguatkan akar. Dari situ tumbuh sebuah kesadaran besar: bahwa kekuatan sejati adalah persekutuan. Maka dibangunlah dua ikatan agung yakni  Galiau Watang Lema dan Solor Watang Lema. Adapun lima kerajaan Islam di pesisir Pulau Alor, Kerajaan Kui & Kerajaan Bunga Bali / Bungabali(Alor) Kerajaan Blagar, Kerajaan Pandai & Kerajaan Baranusa (Pantar). Sementara Solor Watang Lema terdiri dari lima kerajaan Islam di wilayah Flores Timur yaitu Kerajaan Lohayong & Lamakera (Solor), Kerajaan, Lamahala & T...

FALSAFAH HIDUP ORANG ALOR

FALSAFAH HIDUP Orang Alor : 1. "Kuli mati mati, Haki Tifang Levo-Ite Kakang Aring" 2. "Tara miti, Tomi Nuku"  3. "Tom NU Tatang To Apuin, O Tarofe Afilung Puin".  4. "Mapi Tenang Eli, Mapi Mule Noa"  5. "Hiu NU O Pok, Name Nu Tafain" 6. " Bap So Tafain Tofangsah, Den lifang den Adang lol" 7. "Mong Let Dun Name Beng, Ho'k Fana Piri NU Ale'eng" 8. "AFAIN DI AFAIN, GARIANG DI GARIANG, Sei Lame eh di Olofe Ah"   Filosofi Hidup Orang Alor: Pesan Leluhur untuk Hidup Bersama Orang Alor hidup dengan berpegang pada pesan-pesan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pesan ini bukan hanya kata-kata adat, tetapi pedoman hidup yang mengajarkan cara menjadi manusia yang baik, hidup rukun, dan saling menghargai dalam perbedaan. Leluhur Alor Pesisir berpesan: “ Kuli mati mati, Haki Tifang Levo.” Artinya, di mana pun kita hidup dan meninggal, kita tidak boleh melupakan kampung halaman. Kampung dan tanah ...