Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

SD NEGERI BOOF - KUANFATU, TTS

Gambar
Esai Puitis dan Filosofis:  “Sekolah di Ujung Angin, Cermin Luka Bangsa” Sumber video : @Melchan Banu Di sebuah lembah kecil yang dipeluk angin kering dari selatan, berdirilah SD Negeri Boof, di Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Sekolah itu lebih mirip kandang ayam ketimbang rumah ilmu. Atapnya dari seng karatan, bergetar setiap kali angin musim timur melintas. Dindingnya dari pelepah lontar dan cincangan bambu, diikat dengan tali sabut kelapa. Tiangnya dari kayu bulat yang lapuk dimakan waktu, dan lantainya, bukan ubin, bukan semen, melainkan tanah merah yang keras di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan. Namun di ruang yang sederhana itu, ratusan anak-anak kecil datang setiap pagi dengan wajah berseri, membawa mimpi sebesar dunia. Beberapa dari mereka belajar sambil berdiri, bukan karena semangat yang meluap, tetapi karena tak ada meja dan kursi untuk duduk. Yang tersisa hanya beberapa bangku reot, disangga batu, diganjal kayu patah...

Tangga di Punggung Onta: Jejak Seorang Putra Raja Tanah

Gambar
Jejak Langkah Zeth Libing di Kampung Pemali Tangga di Punggung Onta: Jejak Seorang Putra Raja Tanah Esai Filosofis tentang Kepemimpinan Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si di Bampalola Dari Tanah Pantar Menuju Hati Bampalola   Di timur jauh Nusantara, di gugusan pulau-pulau yang diselimuti ombak dan doa, lahirlah seorang pemimpin yang berjalan dengan langkah leluhur. Ia bukan sekadar pejabat yang memegang kekuasaan, tetapi seorang anak tanah yang membawa darah sejarah dan panggilan pengabdian. Namanya Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si , Penjabat Bupati Alor tahun 2024, yang dalam masa kepemimpinannya menorehkan karya tak biasa, membangun tangga seribu di jalan punggung onta menuju kampung tradisional Bangpalol , negeri adat di Tulagadong, Bampalola. Ia datang bukan dengan gemuruh pidato, bukan pula dengan janji politik, tetapi dengan langkah sederhana seorang anak negeri yang pulang membawa harapan. Di pundaknya bukan hanya beban jabatan, tetapi tanggung jawab sejarah: menyambung ...

LEGO-LEGO

Gambar
  https://bangpaloltulagadong.blogspot.com/2020/11/lego-lego.html

PERBEDAAN YANG MENYATUKAN

Gambar
BAMPALOLA: DI KAKI GUNUNG RAJA, DALAM PELUKAN TULAGADONG Di antara kabut pagi yang menari di lereng timur Pulau Alor, berdirilah Bampalola, kampung tua yang berakar di kaki Gunung Raja — atau disebut juga Jabal Malik, tempat di mana tanah, langit, dan doa saling berpelukan dalam kesetiaan abadi. Kampung ini bukan sekadar hamparan rumah dan ladang; ia adalah tulisan tangan leluhur yang ditorehkan di batu, di tanah, dan di jiwa anak-anaknya. Di atas bukit Tulagadong, tempat angin membawa kabar dari nenek moyang, berdirilah Rumah Adat Lakatuil, rumah tua yang menjadi saksi ziarah waktu. Dikelilingi oleh delapan belas rumah adat lainnya, Tulagadong tampak seperti lingkaran kehidupan — tempat para suku, darah, dan keyakinan berpadu dalam kehormatan dan takzim. Di sanalah setiap batu menjadi altar, setiap pohon menjadi saksi, dan setiap langkah menjadi doa. Dari lembah yang lembut hingga puncak yang berawan, mengalunlah syair tua yang diwariskan dari generasi ke generasi, “Bap so...

Situs Fet Arangbah Bang

Gambar
Penjaga Api Leluhur di Rumah Arangbah Bang Di kaki Bukit Tulagadong, tempat kabut pagi menari di antara desir angin dan doa para leluhur, berdirilah sepasang insan: Muhammad Asri dan Fatimah Bashir. Bersama cucu kecil di pelukannya — titisan kasih dari anak sulung mereka, Aja Adi Putra Eki Asri dan Sufiyani Mulle, putri Banghana — mereka menjejak tanah leluhur dengan langkah yang sarat makna. Di belakang mereka, berdiri sebuah rumah bambu beratap ilalang. Bukan sekadar bangunan — tetapi “Rumah Adat Fet Arangbah Bang”, rumah yang menyimpan ruh sejarah dan jantung kebudayaan Suku Kapitang. “Arangbah” berarti pohon kusambi, pohon yang mencengkeram tanah dengan akar kesetiaan, sebagaimana suku ini memeluk nilai-nilai leluhur dengan keteguhan dan rasa hormat. “Bang” berarti rumah, tempat naungan tubuh dan jiwa, tempat darah dan cerita menyatu menjadi napas kehidupan. Mereka bukan sekadar keluarga — mereka adalah penjaga ingatan. Di wajah Muhammad Asri, tampak garis waktu yang me...

Suatu Pagi di Perbatasan

Gambar
Di ufuk timur perbatasan Wini–Oecusse, matahari menyingkap tirai malam dengan cahaya keemasan. Laut beriak pelan, seolah menyambut langkah seorang pengembara — guru pedalaman yang berlayar di garis tak bernama antara dua negeri. Di sinilah batas peta kehilangan maknanya, karena di dada sang guru, Indonesia bukan sekadar tanah, melainkan panggilan jiwa. Angin pagi membawa pesan dari kampung halaman — suara anak, istri, dan ibunya yang jauh di seberang, namun hatinya tetap teguh, sebab setiap gelombang yang dihadapinya adalah ayat tentang pengabdian. Mentari terbit bukan sekadar pertanda hari baru, tetapi isyarat bahwa cahaya ilmu akan selalu menemukan jalannya — menembus kabut kesunyian, menyapa wajah-wajah polos di ujung negeri. Di atas geladak yang basah, ia menatap cakrawala dan berbisik lirih: “Selama matahari masih terbit dari timur, aku akan terus berjalan, membawa cahaya pengetahuan, meski langkahku jauh dari yang kucinta.” Maka, di antara ombak dan sinar mentari, ter...

Perjalanan-Ku

Gambar
Di dek kapal yang sunyi, di bawah langit malam Kota Karang, terdengar hanya desir angin dan gelegar ombak yang menepuk lambung baja. Seorang anak Alor duduk diam, matanya menatap laut yang kelam, namun di hatinya bergemuruh rindu yang tak pernah padam. Ia bukan sekadar penumpang perjalanan laut, ia adalah pengabdi. anak negeri yang menjemput tugas di ujung tanah air. Dari Tenau Kupang ia berangkat, membawa doa ibunya yang basah air mata, melewati Atapupu yang sunyi, singgah di Maritaing yang penuh kenangan, dan akhirnya menuju Kalabahi.Tanah kelahiran yang selalu memanggil dalam diam. Setiap pelabuhan adalah jeda antara harapan dan kerinduan, setiap ombak adalah surat dari rumah yang tak pernah ia baca tuntas. Anak, istri, dan ibu. Tiga cahaya yang menuntun hatinya dalam gelap laut, meski jauh, mereka adalah kompas dalam perjalanannya yang panjang dan sepi. Di balik dingin besi kapal dan nyala lampu biru di lantai dek, terpancar keteguhan seorang lelaki Alor, yang tahu bahw...

MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA

Gambar
MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA Cahaya Ilmu dari Kaki Gunung Raja Sejarah dan Makna Berdirinya MIS Al Islamiyah Bampalola Di lereng tenang kaki Gunung Raja , di tanah yang dilingkupi angin laut dan kabut pegunungan, berdiri sebuah sekolah yang lahir dari peluh dan doa masyarakatnya: MIS Al Islamiyah Bampalola . Bukan sekadar bangunan pendidikan, madrasah ini adalah saksi sejarah tentang betapa ilmu pengetahuan mampu menjadi cahaya penuntun, bahkan ketika segala keterbatasan menghadang. Awal yang Sederhana: SPBH sebagai Cikal Bakal Pada dekade 1950-an , sebelum nama madrasah itu harum dikenal, masyarakat Bampalola memulai langkah kecil namun bermakna. Mereka mendirikan SPBH (Sekolah Pemberantasan Buta Huruf) , sebagai jawaban atas kegelisahan akan generasi yang hidup tanpa membaca dan menulis. Guru pertama yang menyalakan api ilmu itu adalah Zainuddin Ane (Alm) dan Basir Belly (Alm), dua putra terbaik yang mengorbankan waktu dan tenaga demi mengangkat martabat masyarakatn...

PROFIL UPTD SMP NEGERI 14 TAKARI

Gambar
PROFIL SMP NEGERI 14 TAKARI   UPTD SMP Negeri 14 Takari “Sekolah dari Kesederhanaan, Melahirkan Generasi dengan Harapan” Di tengah hamparan tanah kering Takari, di mana musim panas begitu panjang dan hujan begitu singkat, berdirilah sebuah rumah ilmu yang sederhana namun sarat makna: UPTD SMP Negeri 14 Takari. Sekolah ini lahir dari kebutuhan mendasar masyarakat, lahir dari kerinduan panjang agar anak-anak Takari memiliki tempat untuk menimba ilmu tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Ia bukan sekadar gedung, melainkan jawaban atas doa para orang tua, juga mimpi anak-anak yang ingin menatap masa depan dengan lebih terang. Sejak awal berdirinya, SMP Negeri 14 Takari tumbuh dalam keterbatasan. Gedung yang sederhana, papan tulis yang usang, dan bangku kayu yang tak selalu utuh, menjadi saksi perjalanan. Namun justru di situlah nilai sejati pendidikan terasa: ia bukan semata soal fasilitas, tetapi soal semangat yang tak pernah padam. Jejak Kepemimpinan dan Pengabdian Sekolah ini ki...