Postingan

Menampilkan postingan dengan label NARASI

MEMAHAMI DIKSI "SYAHID & MARTIR SECARA UTUH

  SYAHID DAN MARTIR MEMAHAMI DIKSI KEAGAMAAN DI TENGAH RUANG PUBLIK DAN PERDEBATAN MEDIA Oleh: Majid Adang   Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh perdebatan mengenai penggunaan diksi “syahid” dalam ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla di lingkungan Universitas Gadjah Mada . Diskusi tersebut kemudian berkembang dalam berbagai forum media dan talkshow televisi dengan menghadirkan narasumber lintas agama. Namun yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah bagaimana istilah “syahid” diperdebatkan lebih sebagai isu sensitif-politik ketimbang sebagai konsep teologis yang memiliki akar sejarah dan makna yang sangat dalam dalam tradisi agama. Sebagian narasumber Muslim tampak menyederhanakan makna syahid hanya pada konteks perang atau kekerasan. Di sisilain, beberapa narasumber Kristen menyatakan bahwa dalam kekristenan tidak dikenal istilah “syahid”, melainkan “martir”. Pernyataan itu memang benar secara terminologi internal agama masing-masing, tetapi...

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL BAGI SEORANG GURU PEDALAMAN

Gambar
Di Batas Peta, Di Tengah Sunyi Refleksi Hari Pendidikan Nasional dari Seorang Guru Pedalaman Hari Pendidikan Nasional selalu datang dengan gema yang sama, pidato, slogan, dan janji-janji tentang masa depan bangsa yang tercerahkan oleh ilmu. Namun, di batas paling timur negeri ini, di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, gema itu tiba dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak menggema keras di aula berpendingin udara, melainkan merayap pelan di antara dinding pelepah dan anyaman bambu, menembus atap rumbia yang bocor, lalu jatuh perlahan ke lantai tanah tempat anak-anak belajar dengan kaki berdebu dan mata yang menyala. Sebagai seorang guru di ruang sederhana itu, saya sering bertanya, Apakah pendidikan dalam esensinya benar-benar tentang fasilitas? Ataukah ia adalah perjumpaan eksistensial antara harapan dan keterbatasan? Secara filosofis, pendidikan adalah proses menjadi becoming , sebagaimana dipahami dalam tradisi eksistensialisme. Ia bukan sekadar transfer pengetahuan melainka...

Menimbang Manfaat Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi Masyarakat Desa

Gambar
Esai Kritis dan Rasional: Menimbang Manfaat Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi Masyarakat Desa Dalam upaya membangun sumber daya manusia yang unggul, sehat, dan berdaya saing, pemerintah meluncurkan program MBG — Makan Bergizi Gratis. Program ini digadang-gadang sebagai wujud nyata keberpihakan negara kepada generasi muda dan kelompok rentan, terutama anak-anak sekolah dan masyarakat miskin. Di tengah gempuran isu stunting, kemiskinan ekstrem, dan ketimpangan gizi antara kota dan desa, MBG menjadi harapan baru. Namun, di balik cita-cita mulianya, muncul pertanyaan kritis: sejauh mana MBG benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa? 1. Latar Belakang dan Tujuan Program Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari kesadaran bahwa gizi adalah pondasi utama kualitas manusia. Anak yang lapar tidak dapat belajar dengan baik; tubuh yang kekurangan gizi tidak dapat tumbuh optimal; dan generasi yang lemah tidak mampu bersaing di masa depan. MBG bertujuan untuk menja...

MBG Warisan Politik?

Gambar
Esai Kritis dan Rasional: Menimbang Manfaat Program MBG (Makan Bergizi Gratis) bagi Masyarakat Desa Dalam lanskap pembangunan nasional, kesejahteraan rakyat tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari seberapa sehat dan bergizi rakyatnya. Kesadaran inilah yang melahirkan program MBG — Makan Bergizi Gratis, sebagai salah satu langkah strategis pemerintah untuk membangun generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya. Program MBG hadir sebagai jawaban atas realitas yang masih menyesakkan: tingginya angka stunting, kemiskinan gizi, dan ketimpangan akses pangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Di tengah kesenjangan itu, masyarakat desa menjadi kelompok yang paling membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar janji politik yang berlalu bersama musim kampanye. 1. Hak Rakyat, Bukan Hadiah Politik Satu hal penting yang perlu ditegaskan secara rasional dan kritis: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan milik atau ciptaan satu partai politik tertentu. MBG adalah ...