Postingan

Menampilkan postingan dengan label SEJARAH

MEMAHAMI DIKSI "SYAHID & MARTIR SECARA UTUH

  SYAHID DAN MARTIR MEMAHAMI DIKSI KEAGAMAAN DI TENGAH RUANG PUBLIK DAN PERDEBATAN MEDIA Oleh: Majid Adang   Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh perdebatan mengenai penggunaan diksi “syahid” dalam ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla di lingkungan Universitas Gadjah Mada . Diskusi tersebut kemudian berkembang dalam berbagai forum media dan talkshow televisi dengan menghadirkan narasumber lintas agama. Namun yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah bagaimana istilah “syahid” diperdebatkan lebih sebagai isu sensitif-politik ketimbang sebagai konsep teologis yang memiliki akar sejarah dan makna yang sangat dalam dalam tradisi agama. Sebagian narasumber Muslim tampak menyederhanakan makna syahid hanya pada konteks perang atau kekerasan. Di sisilain, beberapa narasumber Kristen menyatakan bahwa dalam kekristenan tidak dikenal istilah “syahid”, melainkan “martir”. Pernyataan itu memang benar secara terminologi internal agama masing-masing, tetapi...

FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR”

Gambar
FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR” (Sebuah esai puitis-filosofis tentang adat Belis di Bampalola, Alor, NTT) Nafas Adat dan Martabat Perempuan di Bampalola "Gong dan Moko: Nada Cinta di Tanah Raja" Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu beratap ilalang, di kaki Gunung Raja, malam turun perlahan seperti doa yang menetes dari langit. Di tengah ruangan sederhana itu, duduklah para sulung suku Afen, suku yang bergelar Raja, penjaga jejak pertama kehidupan di bumi Bampalola. Di hadapan mereka, di atas meja kayu, terletak benda-benda sakral: Gong dan Moko, dua pusaka yang tidak sekadar logam, melainkan gema sejarah, pantulan suara arwah leluhur yang masih berbisik dalam angin malam. Percakapan dimulai dengan nada rendah, pelan, berat, dan penuh makna. Mereka tidak sekadar membicarakan belis atau mahar untuk sebuah pernikahan, tetapi menimbang keseimbangan semesta: hubungan antara laki-laki dan perempuan, antara raja dan panglima, antara bumi dan langit. Karena bagi orang Bampalola,...

MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA

Gambar
MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA Cahaya Ilmu dari Kaki Gunung Raja Sejarah dan Makna Berdirinya MIS Al Islamiyah Bampalola Di lereng tenang kaki Gunung Raja , di tanah yang dilingkupi angin laut dan kabut pegunungan, berdiri sebuah sekolah yang lahir dari peluh dan doa masyarakatnya: MIS Al Islamiyah Bampalola . Bukan sekadar bangunan pendidikan, madrasah ini adalah saksi sejarah tentang betapa ilmu pengetahuan mampu menjadi cahaya penuntun, bahkan ketika segala keterbatasan menghadang. Awal yang Sederhana: SPBH sebagai Cikal Bakal Pada dekade 1950-an , sebelum nama madrasah itu harum dikenal, masyarakat Bampalola memulai langkah kecil namun bermakna. Mereka mendirikan SPBH (Sekolah Pemberantasan Buta Huruf) , sebagai jawaban atas kegelisahan akan generasi yang hidup tanpa membaca dan menulis. Guru pertama yang menyalakan api ilmu itu adalah Zainuddin Ane (Alm) dan Basir Belly (Alm), dua putra terbaik yang mengorbankan waktu dan tenaga demi mengangkat martabat masyarakatn...