Postingan

Menampilkan postingan dengan label REFLEKSI

MEMAHAMI DIKSI "SYAHID & MARTIR SECARA UTUH

  SYAHID DAN MARTIR MEMAHAMI DIKSI KEAGAMAAN DI TENGAH RUANG PUBLIK DAN PERDEBATAN MEDIA Oleh: Majid Adang   Dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh perdebatan mengenai penggunaan diksi “syahid” dalam ceramah tokoh nasional Jusuf Kalla di lingkungan Universitas Gadjah Mada . Diskusi tersebut kemudian berkembang dalam berbagai forum media dan talkshow televisi dengan menghadirkan narasumber lintas agama. Namun yang menarik sekaligus memprihatinkan adalah bagaimana istilah “syahid” diperdebatkan lebih sebagai isu sensitif-politik ketimbang sebagai konsep teologis yang memiliki akar sejarah dan makna yang sangat dalam dalam tradisi agama. Sebagian narasumber Muslim tampak menyederhanakan makna syahid hanya pada konteks perang atau kekerasan. Di sisilain, beberapa narasumber Kristen menyatakan bahwa dalam kekristenan tidak dikenal istilah “syahid”, melainkan “martir”. Pernyataan itu memang benar secara terminologi internal agama masing-masing, tetapi...

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL BAGI SEORANG GURU PEDALAMAN

Gambar
Di Batas Peta, Di Tengah Sunyi Refleksi Hari Pendidikan Nasional dari Seorang Guru Pedalaman Hari Pendidikan Nasional selalu datang dengan gema yang sama, pidato, slogan, dan janji-janji tentang masa depan bangsa yang tercerahkan oleh ilmu. Namun, di batas paling timur negeri ini, di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, gema itu tiba dalam bentuk yang berbeda. Ia tidak menggema keras di aula berpendingin udara, melainkan merayap pelan di antara dinding pelepah dan anyaman bambu, menembus atap rumbia yang bocor, lalu jatuh perlahan ke lantai tanah tempat anak-anak belajar dengan kaki berdebu dan mata yang menyala. Sebagai seorang guru di ruang sederhana itu, saya sering bertanya, Apakah pendidikan dalam esensinya benar-benar tentang fasilitas? Ataukah ia adalah perjumpaan eksistensial antara harapan dan keterbatasan? Secara filosofis, pendidikan adalah proses menjadi becoming , sebagaimana dipahami dalam tradisi eksistensialisme. Ia bukan sekadar transfer pengetahuan melainka...

MENCARI MAKNA DALAM LELAHNYA KURIKULUM

Gambar
Dalam Sunyi Kelas, Kurikulum Terus Berganti Sebuah Essay Puitis & Kritis yang lahir dari renungan mendalam seorang Guru di Pojok Negeri Di negeri kepulauan yang dibaptis sejarah dan derita ini, pendidikan adalah jantung yang terus berdegup, namun sering kali tak didengar detaknya. Kurikulum di Indonesia bukan sekadar perangkat belajar. Ia adalah cermin zaman, refleksi kekuasaan, arah politik, dan harapan yang sering digadaikan. Sejak 1947, ketika bangsa baru saja menyeka darah dari wajahnya, lahirlah Rencana Pelajaran pertama. Sederhana, penuh semangat nasionalisme, kurikulum ini bukan hanya mengajarkan hitungan dan ejaan, tetapi juga rasa, adalah rasa menjadi Indonesia yang merdeka, yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan watak, bukan hanya angka. Tahun-tahun berlalu. 1952, 1964 rencana demi rencana terurai. Dibubuhi moral, keterampilan dan emosi. Sekolah tak lagi ruang diam, tapi ladang pembentukan jiwa dan raga. Namun gelombang politik tak pernah diam. 1968 datang, dan bersama den...

MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA

Gambar
MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA Cahaya Ilmu dari Kaki Gunung Raja Sejarah dan Makna Berdirinya MIS Al Islamiyah Bampalola Di lereng tenang kaki Gunung Raja , di tanah yang dilingkupi angin laut dan kabut pegunungan, berdiri sebuah sekolah yang lahir dari peluh dan doa masyarakatnya: MIS Al Islamiyah Bampalola . Bukan sekadar bangunan pendidikan, madrasah ini adalah saksi sejarah tentang betapa ilmu pengetahuan mampu menjadi cahaya penuntun, bahkan ketika segala keterbatasan menghadang. Awal yang Sederhana: SPBH sebagai Cikal Bakal Pada dekade 1950-an , sebelum nama madrasah itu harum dikenal, masyarakat Bampalola memulai langkah kecil namun bermakna. Mereka mendirikan SPBH (Sekolah Pemberantasan Buta Huruf) , sebagai jawaban atas kegelisahan akan generasi yang hidup tanpa membaca dan menulis. Guru pertama yang menyalakan api ilmu itu adalah Zainuddin Ane (Alm) dan Basir Belly (Alm), dua putra terbaik yang mengorbankan waktu dan tenaga demi mengangkat martabat masyarakatn...