MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA
MIS BAMPALOLA-CAHAYA ILMU DI KAKI GUNUNG RAJA
Cahaya Ilmu dari Kaki Gunung Raja
Sejarah dan Makna Berdirinya MIS Al Islamiyah Bampalola
Di lereng tenang kaki Gunung Raja, di tanah yang dilingkupi angin laut dan kabut pegunungan, berdiri sebuah sekolah yang lahir dari peluh dan doa masyarakatnya: MIS Al Islamiyah Bampalola. Bukan sekadar bangunan pendidikan, madrasah ini adalah saksi sejarah tentang betapa ilmu pengetahuan mampu menjadi cahaya penuntun, bahkan ketika segala keterbatasan menghadang.
Awal yang Sederhana: SPBH sebagai Cikal Bakal
Pada dekade 1950-an, sebelum nama madrasah itu harum dikenal, masyarakat Bampalola memulai langkah kecil namun bermakna. Mereka mendirikan SPBH (Sekolah Pemberantasan Buta Huruf), sebagai jawaban atas kegelisahan akan generasi yang hidup tanpa membaca dan menulis. Guru pertama yang menyalakan api ilmu itu adalah Zainuddin Ane (Alm) dan Basir Belly (Alm), dua putra terbaik yang mengorbankan waktu dan tenaga demi mengangkat martabat masyarakatnya. Dari sekolah sederhana inilah benih MIS Al Islamiyah Bampalola tumbuh.
Tahun 1959: Lahirnya Madrasah dari Rukun Masyarakat
Tepat pada tahun 1959, masyarakat Rukun Kampung Bampalola dengan tekad bulat mendirikan sebuah madrasah. Saat itu pemerintahan masih berada di bawah Desa Gaya Baru Dulolong. Lokasi awalnya berada di Bung Oil, Desa Lewalu, tepat di simpang tiga jalan Lewalu–Bampalola.
Bangunan pertamanya jauh dari kata megah, tiang-tiangnya kayu hidup yang ditancapkan ke tanah, atapnya ilalang, dindingnya dari daun kelapa, sedangkan meja dan kursinya hanya dari bambu. Namun, dari kesederhanaan itu lahirlah sebuah kemuliaan: sekolah yang menjadi rumah ilmu dan cahaya iman.
Perjalanan Pindah: Dari Maebang hingga Dukfal
Tiga tahun kemudian, pada 1962, madrasah dipindahkan ke Maebang, tepat di rumah Bakar Adang dan Kasim Bakir (yang kini dikenal sebagai Kepala MTs Bampalola). Namun perjalanan belum berhenti. Beberapa tahun kemudian, madrasah berpindah lagi ke Dukfal, dan di situlah ia bertahan hingga hari ini berdiri di kaki Gunung Raja, menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Bampalola dalam memelihara pendidikan.
Peran Tua-Tua Adat dan Putra Aloindonu
Sejarah ini tidak hanya ditopang oleh tenaga masyarakat, tetapi juga oleh kearifan tua-tua adat. Setelah madrasah didirikan tahun 1962, mereka memerintahkan Zainuddin Ane untuk berangkat ke Aloindonu (kini Desa Alila Selatan). Tujuannya adalah memohon kesediaan dua putra Aloindonu, Sulaiman Adang Ton dan Dahlan Ouw, agar salah satunya bersedia mengabdikan diri di madrasah tersebut.
Jawaban datang dari Dahlan Ouw, yang dengan penuh keikhlasan menerima panggilan itu. Kehadirannya bukan hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai pelita yang menyalakan semangat generasi muda. Bahkan BP3 pertama, Bapak Tong Amarain, menikahkan salah satu putrinya dengan Dahlan Ouw agar beliau menetap di Bampalola dan menjaga sekolah yang didirikan dengan susah payah itu.
Estafet Kepemimpinan
Dari masa ke masa, kepemimpinan madrasah ini berpindah tangan. Setelah wafatnya Dahlan Ouw, tongkat estafet itu dilanjutkan oleh para tokoh pendidik: Abdurrahman Salamah, Ahmad Pute, Tadjudin Sunari, Rahman Salamah, dan Rahim Lagi—semuanya telah mendahului kita, meninggalkan jejak pengabdian yang abadi. Kini, estafet itu berada di tangan Karim Ali, yang meneruskan perjuangan para pendahulunya agar madrasah tetap hidup, tetap menjadi cahaya di kaki Gunung Raja.
Madrasah di Tengah Masyarakat Muslim
Bampalola adalah desa dengan penduduk 100% beragama Islam. Maka, kehadiran madrasah ini tidak hanya sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat. Tak heran, setiap tahun MIS Al Islamiyah Bampalola menjadi penyumbang siswa terbanyak, setelah madrasah di Pulau Buaya. Generasi demi generasi lahir dari sekolah ini, membawa cahaya ilmu ke berbagai penjuru.
Asa yang Tertunda: Kisah Penegerian
Pada era tahun 2000-an, kabar gembira sempat berembus bahwa madrasah ini akan dinegerikan. Harapan pun menggunung, doa para orang tua dipanjatkan, dan masyarakat bersiap menyambut babak baru dalam sejarah madrasah. Namun, ketika hari yang ditunggu tiba, keputusan berpindah: penegerian itu diberikan kepada Baranusa, yang kini dikenal dengan nama MIN Baranusa.
Kekecewaan sempat menyelimuti hati masyarakat Bampalola. Namun mereka ikhlas, karena yakin perjuangan tidak pernah sia-sia. Harapan tetap terjaga, doa leluhur tetap terlantun, bahwa suatu saat MIS Al Islamiyah Bampalola akan resmi dinegerikan, menjadi jawaban atas jerih payah generasi terdahulu.
Pesan Moral untuk Generasi Kini
Sejarah MIS Al Islamiyah Bampalola bukan sekadar kisah tentang bangunan kayu, daun kelapa, atau atap ilalang. Ia adalah cermin betapa ilmu harus diperjuangkan, meski dengan segala keterbatasan. Leluhur kita telah mengajarkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan sekadar urusan guru atau pemerintah.
Generasi kini seharusnya meneladani semangat itu. Jika para pendiri rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan keluarga demi berdirinya sebuah sekolah, maka tugas generasi penerus adalah menjaga, mengembangkan, dan mengharumkannya.
Landasan dari Al-Qur’an dan Hadits
Allah ﷻ berfirman:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
(QS. Al-Mujādilah: 11)
Rasulullah ﷺ pun bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Ayat dan hadits ini adalah penegasan, bahwa usaha masyarakat Bampalola mendirikan dan menjaga madrasah ini bukanlah pekerjaan sia-sia. Ia adalah amal jariyah yang pahalanya mengalir, dari generasi ke generasi, hingga hari kiamat.
Penutup: Cahaya dari Kaki Gunung Raja
Di bawah bayang Gunung Raja, madrasah ini berdiri bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai monumen perjuangan—bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu tidak boleh padam.
Doa para leluhur dan harapan generasi kini berpadu menjadi satu: semoga suatu saat kelak, MIS Al Islamiyah Bampalola akan dinegerikan, menjadi buah dari ikhtiar panjang yang penuh sabar. Hingga saat itu tiba, madrasah ini akan terus menyalakan obor ilmu, menjaga iman, dan menuntun langkah anak-anak Bampalola menuju masa depan yang gemilang.
by; Majid Adang (Guru di Pojok Negeri)
🌿 Syair Perjuangan dari Kaki Gunung Raja
Di kaki Gunung Raja cahaya berpijar,
Ilmu ditanam dengan doa yang sabar,
Bambu jadi meja, ilalang pun jadi atap,
Namun semangat tak pernah lenyap.
Dari SPBH cahaya bermula,
Zainuddin Ane dan Basir Belly menebar makna,
Bampalola bangkit, umat bersatu,
Mendirikan madrasah dengan hati yang satu.
Kayu hidup jadi tiang penyangga,
Daun kelapa jadi dinding sederhana,
Namun iman lebih kokoh dari baja,
Ilmu ditegakkan, tak akan sirna.

Komentar