GENERASI EMAS?
“DI ANTARA KURIKULUM YANG BERGANTI, DAN AKHLAK YANG PERLAHAN PERGI”
Refleksi seorang guru di pedalaman
Saya mengajar di tempat yang jauh dari pusat kebijakan.
Di sini, jalan masih tanah, sinyal datang dan pergi sesuka angin,
dan papan tulis kadang lebih setia daripada listrik.
Namun ada satu hal yang selalu datang tepat waktu:
perubahan kurikulum.
Dari kejauhan, kami menerimanya seperti menerima musim—
datang tanpa bisa ditolak,
dibawa dengan bahasa-bahasa besar:
transformasi, merdeka belajar, profil pelajar…
Semuanya terdengar indah di atas kertas,
tetapi sering terasa asing di ruang kelas kami yang sederhana.
Saya tidak menolak perubahan.
Saya paham zaman bergerak,
dan pendidikan tidak boleh tinggal diam.
Tetapi yang membuat saya gelisah bukanlah perubahan itu—
melainkan arah yang seakan lupa pada hal paling mendasar:
membentuk manusia.
Anak-anak di depan saya kini semakin cerdas menjawab soal,
tetapi semakin sulit memahami sopan santun.
Mereka cepat mengakses dunia,
tetapi lambat mengenali batas.
Mereka tahu banyak hal,
namun tidak selalu tahu bagaimana menghormati.
Di sinilah saya mulai bertanya dalam diam:
apakah kita sedang membangun generasi berilmu,
atau sekadar generasi yang terampil tanpa jiwa?
Kurikulum berubah, buku diganti, istilah diperbarui.
Tetapi nilai—yang seharusnya menjadi akar—
justru semakin dangkal.
Di pedalaman, kami tidak punya banyak fasilitas,
tetapi kami dulu punya satu kekuatan:
kedekatan.
Guru bukan hanya pengajar, tetapi penuntun.
Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membentuk watak.
Kini, perlahan itu memudar.
Hubungan menjadi formal,
pendidikan terasa seperti proyek,
dan karakter seperti pelengkap yang bisa ditunda.
Saya melihat anak-anak merayakan kelulusan
dengan cara yang jauh dari makna.
Seragam dicoret, nilai dilupakan,
dan rasa hormat terkikis tanpa disadari.
Bukan karena mereka sepenuhnya salah—
tetapi karena kita mungkin tidak cukup tegas
menunjukkan mana yang benar.
Saya, seorang guru di pedalaman,
tidak punya kuasa mengubah kebijakan.
Namun saya masih percaya pada satu hal:
bahwa pendidikan sejati tidak lahir dari kurikulum,
melainkan dari keteladanan.
Selama saya masih berdiri di depan kelas,
saya akan terus mengajarkan hal-hal sederhana
yang mungkin tidak tertulis dalam modul:
cara menyapa dengan hormat,
cara mendengar dengan sungguh,
cara memperlakukan orang lain sebagai manusia.
Sebab jika akhlak runtuh,
ilmu akan kehilangan arah.
Dan jika pendidikan gagal membentuk hati,
maka semua perubahan hanya akan menjadi
sekadar pergantian nama—
tanpa pernah menyentuh jiwa.
Di sini, di ruang kelas yang sederhana,
saya memilih bertahan pada keyakinan lama:
bahwa tujuan akhir pendidikan bukanlah kelulusan,
melainkan kemanusiaan.
Komentar