Keadilan di ujung Rotan
Eki Adang Tareh: Suara Corong Tua dari Bangpalol
Di antara kabut pagi yang menggantung di lereng-lereng Alor, ada nama yang tak pernah padam dalam ingatan generasi: Kakek Bakar Adang, yang oleh rakyatnya disapa penuh hormat sebagai Eki Adang Tareh. Ia bukan raja, bukan pejabat besar, tapi suara corong tuanya pernah menggema lebih keras dari petir, dan keadilannya lebih dalam dari jurang di kaki gunung Bangpalol.
Dulu, ketika dunia belum seramai kini, ketika jalan masih bertanah liat dan malam hanya diterangi lampu pelita, suara dari corong tua milik Eki Adang menjadi panggilan bagi setiap warga. Di bawah langit sederhana, suaranya menggetarkan dada, mengundang rakyat kecil dari setiap penjuru kampung untuk berkumpul, mendengar, dan mematuhi. Corong itu bukan sekadar alat, tapi simbol kuasa moral—suara yang lahir dari hati yang tulus, bukan dari ambisi kekuasaan.
Eki Adang bukanlah penguasa dengan tongkat emas. Ia hanya membawa sebatang rotan, bukan untuk menindas, tapi untuk menegakkan garis disiplin dan keadilan. Setiap ayunannya bukan cambuk kebencian, melainkan pengingat akan tanggung jawab, akan keseimbangan hidup, dan akan kebenaran yang harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Orang bilang, rotan di tangannya bisa menundukkan yang congkak, tapi bisa pula menjadi pelindung bagi yang lemah.
Dalam setiap sidang kampung, di antara suara ayam dan gemuruh ombak dari kejauhan, kata-kata Eki Adang mengalir seperti mata air kebijaksanaan. Ia tidak pernah belajar di sekolah tinggi, tapi pikirannya menembus batas buku. Ia menimbang perkara dengan hati, bukan dengan kepentingan. Keadilannya menjadi payung bagi semua, dan ketegasannya menjadi benteng bagi nilai-nilai yang nyaris punah.
Ketika waktu akhirnya menjemputnya, kampung Bangpalol seakan kehilangan denyutnya. Corong tua itu diam. Rotan itu tergantung tanpa tuan. Namun jejak langkahnya tak hilang di debu tanah, karena ia telah menanam sesuatu yang lebih abadi: nilai, keteladanan, dan martabat. Ia telah menunjukkan bahwa pemimpin sejati bukanlah yang paling tinggi suaranya, tapi yang paling dalam rasa tanggung jawabnya.
Kini, di antara anak cucu yang hidup di zaman penuh hiruk pikuk, nama Eki Adang Tareh masih disebut dengan kebanggaan. Di setiap cerita api unggun, di setiap doa di rumah adat Bangpalol, namanya kembali hidup—bukan sebagai legenda kosong, melainkan sebagai nurani kampung yang abadi.
Karena setiap bangsa kecil, setiap suku, setiap tanah leluhur—memerlukan satu sosok seperti dia:
Seorang lelaki dengan corong tua di tangan kanan, rotan di tangan kiri, dan keadilan di dalam hati.
Warisan Langit dari Rumah Lakatuil
(Esai Filosofis untuk Anak Cucu Adang Tareh)
Di kaki gunung dan di bawah rindang pohon kelapa tua, berdiri megah Rumah Adat Lakatuil, saksi bisu perjalanan sebuah keluarga bangsawan yang namanya harum di tanah Bampalola — keluarga Adang Tareh. Di depannya, dalam foto lawas yang mulai pudar, tampak enam sosok lelaki berpeci, berwajah teduh, dengan tatapan yang mengandung makna keikhlasan dan kehormatan. Mereka bukan sekadar lelaki biasa — mereka adalah penjaga nilai, pengawal marwah, dan pewaris kebijaksanaan yang dititipkan oleh leluhur mereka.
---
1. Cahaya Leluhur dari Bampalola
Dari rahim sejarah itu lahirlah Adang Tareh, seorang bangsawan suku Afen Lelang yang menjadi pilar keseimbangan antara adat dan agama. Dari keturunannya lahir lima putra pilihan:
Tareh Adang, sang tokoh adat;
Eki Adang, sang pemimpin pemerintahan;
Dopong Adang, sang imam masjid;
Ufe Adang, pejabat nikah dan pemimpin ruhani;
dan Bel Adang, perantau yang membawa nama besar keluarga ke tanah Makassar.
Mereka menorehkan jejak tidak dengan tinta, tetapi dengan perbuatan —
tidak dengan kata, tetapi dengan keteladanan.
Sebagaimana pepatah adat Bampalola berkata:
> “Suru na pite, belai na aman.
Kaka na fata, ade na tur.
Ana na mata, ai na dalen.”
(Yang tua menjadi petunjuk, yang muda menjadi pelanjut.
Anak menjadi mata air, leluhur menjadi jalan terang.)
Mereka mengajarkan bahwa hidup bukan untuk dihormati, tetapi untuk memberi kehormatan pada yang hidup; bukan untuk berkuasa, tetapi untuk menjadi penopang bagi sesama.
---
2. Jejak Lima Cahaya
Tareh Adang, si sulung yang menegakkan adat dan hukum kampung, dikenal tegas dalam menegakkan kebenaran namun lembut dalam menimbang hati. Baginya, adat bukan warisan benda, tetapi jiwa yang diwariskan turun-temurun.
Eki Adang, tokoh pemerintahan yang membawa nama keluarga ke ranah publik, menjadi contoh bahwa kekuasaan haruslah dijalankan dengan niat melayani. Dalam dirinya hidup sabda Rasulullah ﷺ:
> “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.”
(HR. Muslim)
Dopong Adang, imam masjid yang suaranya memecah subuh dan menenangkan malam. Ia menjadi penjaga ruh masyarakat, mengajarkan ayat-ayat Tuhan dengan keikhlasan yang sunyi.
Ufe Adang, pengikat dua dunia: syariat dan adat. Dialah penghulu yang menikahkan dua insan, sekaligus imam yang mengikatkan cinta mereka pada Allah. Di akhir hayatnya, ia menjadi tokoh adat yang dihormati, tempat orang bertanya dan meminta doa.
Bel Adang, perantau yang meninggalkan kampung demi menegakkan nama keluarga di tanah jauh. Kepergiannya bukan lari, tapi langkah untuk memperluas langit Bampalola di rantau orang.
---
3. Syair Adat: Suara dari Rumah Lakatuil
> Batu nene di kaki Lakatuil,
Tempat doa ditanam dan nama dijaga.
Adang Tareh, pohonmu berbuah di lima cabang,
Akar di tanah, daun di langit,
Darahmu menjadi cahaya di wajah anak cucu.
> Jangan biarkan abu padam di tungku leluhur,
Jangan biarkan adat beku di bibir sendiri.
Karena adat bukan kain yang usang,
Tapi napas yang menyalakan setiap nama yang lahir.
---
4. Ruh Agama dan Filsafat Hidup
Keluarga Adang Tareh hidup dalam keseimbangan antara adat dan agama. Dalam diri mereka mengalir kesadaran bahwa agama adalah jiwa adat, dan adat adalah perhiasan agama.
Sebagaimana firman Allah SWT:
> "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai."
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini menjadi napas kehidupan mereka — bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada darah yang sama, tetapi pada iman dan kebersamaan dalam menegakkan kebaikan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”
(HR. Ahmad)
Dan itulah yang mereka wujudkan — dalam doa imam, dalam keputusan adat, dalam kebijakan pemerintahan, dan dalam pengabdian sunyi kepada kampung halaman.
---
5. Warisan Kini: Cahaya yang Terus Menyala
Kini, nyala itu diteruskan oleh Mukhtar Adang, anak bungsu dari Ufe Adang, yang menapak jalan kepemimpinan sebagai Kepala Desa Bampalola (2025–2027). Ia bukan sekadar penerus jabatan, melainkan penjaga warisan moral yang telah lama disemai oleh leluhur.
Ia memimpin bukan dengan tongkat kekuasaan, tapi dengan nurani dan doa. Dalam dirinya bergema kembali pesan lama dari Rumah Lakatuil:
> “Jadi pemimpin bukan untuk duduk di kursi tinggi,
tapi untuk menunduk kepada rakyat yang dipercayakan Tuhan padamu.”
Dan sebagaimana Allah berfirman:
> “Sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka tegakkanlah keadilan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu.”
(QS. Shad: 26)
---
6. Penutup: Amanah untuk Anak Cucu
Wahai anak-cucu keluarga Adang Tareh,
ingatlah — darahmu bukan hanya warisan tubuh, tapi juga warisan tanggung jawab.
Rumah Lakatuil bukan sekadar bangunan kayu, tapi rumah jiwa tempat doa leluhur berdiam.
Rawatlah nama itu dengan akhlak.
Jaga marwah itu dengan ilmu.
Dan sambunglah tali itu dengan kasih.
> “Adang bukan nama untuk dibanggakan,
tetapi cahaya untuk diteladani.”
Selama masih ada anak cucu yang bersujud,
selama masih ada yang menyebut nama Tuhan di tanah Bampalola,
selama itu pula roh para leluhur —
akan terus menjaga kalian di bawah atap langit Rumah Lakatuil. 🌾
---
by: Guru Pedalaman
Komentar