Situs Fet Arangbah Bang

Penjaga Api Leluhur di Rumah Arangbah Bang
Di kaki Bukit Tulagadong, tempat kabut pagi menari di antara desir angin dan doa para leluhur, berdirilah sepasang insan: Muhammad Asri dan Fatimah Bashir.
Bersama cucu kecil di pelukannya — titisan kasih dari anak sulung mereka, Aja Adi Putra Eki Asri dan Sufiyani Mulle, putri Banghana — mereka menjejak tanah leluhur dengan langkah yang sarat makna.

Di belakang mereka, berdiri sebuah rumah bambu beratap ilalang. Bukan sekadar bangunan — tetapi “Rumah Adat Fet Arangbah Bang”, rumah yang menyimpan ruh sejarah dan jantung kebudayaan Suku Kapitang.
“Arangbah” berarti pohon kusambi, pohon yang mencengkeram tanah dengan akar kesetiaan, sebagaimana suku ini memeluk nilai-nilai leluhur dengan keteguhan dan rasa hormat.
“Bang” berarti rumah, tempat naungan tubuh dan jiwa, tempat darah dan cerita menyatu menjadi napas kehidupan.

Mereka bukan sekadar keluarga — mereka adalah penjaga ingatan.
Di wajah Muhammad Asri, tampak garis waktu yang mengalir dari masa lalu ke masa kini: garis yang menyimpan kisah perjuangan, pengabdian, dan doa yang tak pernah padam.
Sementara Fatimah Bashir, dengan senyum teduh dan mata penuh harapan, adalah lambang kelembutan yang menjaga bara tradisi agar tetap menyala di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Dan di pelukan mereka, sang cucu kecil menjadi simbol masa depan — titisan generasi yang kelak akan mendengar kisah Arangbah Bang, dan memahami bahwa setiap anyaman bambu di rumah itu adalah ayat sejarah yang hidup.

Rumah adat ini bukan sekadar situs tua. Ia adalah panggung eksistensi Suku Kapitang, suku garda depan penjaga kehormatan budaya di Bukit Tulagadong, Desa Bampalola, Alor, Nusa Tenggara Timur.
Dari rumah inilah, doa para tetua mengalir seperti sungai menuju laut, menembus waktu, menegaskan bahwa jati diri adalah cahaya — dan cahaya itu tak boleh padam, meski dunia terus berubah rupa.

Dalam diam, rumah ini berbisik:
“Selama masih ada yang berdiri di depanku dengan hormat dan cinta, aku takkan runtuh. Karena rumah adat bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah jiwa, rumah kehormatan, rumah kebenaran.”

Dan di sanalah keluarga ini berdiri — seperti pohon kusambi yang berakar dalam dan menjulang tinggi.
Mereka bukan hanya menyambung garis darah, tetapi juga menyalakan obor sejarah, agar generasi mendatang tak berjalan dalam gelap tanpa mengenal asalnya.

Penutup :
Jejak Darah, Doa, dan Keadilan

Jejak langkah Muhammad Asri dan keluarganya tidak terpisah dari bayang besar para leluhur yang menanam benih kearifan di tanah Bampalola.
Darah yang mengalir di nadinya adalah darah para penjaga adat dan pejuang keadilan — darah dari Eyang Usman Lafang, bergelar O’Bel Bang Tou, sang pengikat tiga kampung: Afa’K, Folbo’, dan Bangpalol.
Dialah jembatan persaudaraan, penenun harmoni yang menyatukan tiga wilayah dalam satu ikatan ruh dan budaya.

Dan di atas garis silsilah itu berdiri sosok agung yang mewariskan nama dan martabat: Asri Oko alias Pen Oko, sang pejuang kharismatik — Kepala Dusun 3 Bampalola dan Ketua Panitia Pembangunan Masjid Bampalola hingga akhir hayatnya.
Dalam genggamannya, perkara sesulit apa pun berakhir tanpa menciderai sehelai keadilan pun.
Ia dikenal tegas, berwibawa, dan adil — seorang hakim rakyat yang tak membutuhkan palu, karena suaranya sendiri telah menjadi hukum yang hidup di hati umat.

Dari tangan mereka yang telah berpulang dan dari langkah mereka yang masih menapak, kita belajar bahwa darah bukan sekadar warisan, melainkan amanah.
Bahwa adat bukan sekadar cerita, melainkan cahaya penuntun arah.
Dan bahwa keadilan bukan hanya keputusan, melainkan nilai yang diwariskan dari jiwa ke jiwa.

Maka di bawah langit Tulagadong, di hadapan Rumah Adat Arangbah Bang, sejarah itu terus bernafas —
melalui keluarga yang berdiri tegak menjaga marwah leluhur,
melalui doa yang terus dilantunkan bagi mereka yang telah berpulang,
dan melalui anak-cucu yang kelak akan mengingat:
bahwa mereka berasal dari tanah yang suci — tanah keadilan, tanah persaudaraan, dan tanah kebijaksanaan.

By; Majid Adang Ane 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Keadilan di ujung Rotan