ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

MAJID ADANG: JEJAK PANJANG SEORANG ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB
Ada manusia yang dilahirkan bukan untuk hidup mulus, melainkan untuk menguji makna keteguhan. Di antara tanah berbatu dan angin asin Alor, pada 7 Agustus 1985, lahirlah seorang anak bernama Majid Adang, anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ia lahir dari rahim kesederhanaan dan doa panjang: dari seorang ayah, Almarhum Zainuddin Ane, guru pemberantasan buta huruf—cikal bakal berdirinya MIS Bampalola—yang juga menggantungkan hidup sebagai buruh panjat kelapa di Kalabahi; dan seorang ibu, Mahadia Asri, ibu rumah tangga yang mengajarkan ketabahan lewat sunyi, dan kesetiaan lewat kerja tanpa panggung.

Sejak awal, hidup Majid adalah perjumpaan antara ilmu dan keringat. Antara papan tulis dan batang kelapa. Antara cita-cita dan kenyataan yang seringkali mematahkan langkah—namun tak pernah memadamkan tekad.

Pendidikan formalnya bermula di MIS Bampalola (1993–1999). Di sanalah huruf-huruf pertama dibacanya, bukan sekadar sebagai simbol, tetapi sebagai pintu keluar dari keterbatasan. Namun jalan pendidikan Majid tidak lurus; ia berliku, patah, dan sering memaksanya kembali berdiri dari reruntuhan. Tahun 1999, ia masuk MTsN Kalabahi, tetapi terhenti. Tahun 2000, ia mencoba SMP Ampera, namun kembali putus sekolah. Bagi banyak orang, ini adalah akhir; bagi Majid, ini adalah jeda untuk menguatkan napas.

Ia bangkit. 2000–2003, ia menuntaskan pendidikan di MTs Negeri Kalabahi. Namun ujian kembali datang ketika SMA Muhammadiyah Kalabahi (2003) juga harus ia tinggalkan. Hidup seolah berkata: “Jika ingin melangkah, bayarlah dengan kesabaran.” Dan Majid membayar dengan penuh.

Akhirnya, pada 2006, ia menamatkan pendidikan di MAN Kalabahi. Tamat bukan hanya sebagai lulusan, tetapi sebagai penyintas—seseorang yang memahami bahwa pendidikan bukan sekadar ijazah, melainkan keberanian untuk tidak menyerah.

Awal 2006, ia menapaki dunia pesantren di Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Batam. Di sana, spiritualitas dipertajam, disiplin ditempa, dan kesadaran hidup diperluas. Lalu 2006–2007, ia melanjutkan ke STAI Luqman Al-Hakim Surabaya, meski akhirnya harus drop out. Kegagalan kembali mengetuk pintu, tetapi Majid sudah belajar: kegagalan bukan untuk diratapi, melainkan untuk dipelajari.

Tahun 2007–2011 menjadi bab terpenting dalam hidupnya. Ia kuliah di STAI Ibnu Sina Batam—dan lulus. Namun kelulusan itu tidak datang dengan kemewahan. Ia kuliah sambil bekerja sebagai buruh bongkar muat di Pelabuhan Batu Ampar, Batam. Pagi hingga sore, pukul 08.00–17.00, tubuhnya mengangkat beban; malam hari, pukul 18.30–22.00, pikirannya mengangkat ilmu. Peluh dan kitab berjalan beriringan. Inilah filsafat hidup Majid: ilmu yang lahir dari kerja akan berakar kuat, dan kerja yang disinari ilmu akan bermakna jauh.

Pada 2012, ia pulang mengabdi sebagai honorer Komite di SMPN Hulnani, Kabupaten Alor. Tahun 2013–2018, ia menjadi Guru Kontrak Daerah Kabupaten Alor—mengajar dengan keterbatasan, tetapi dengan keyakinan bahwa setiap anak desa berhak bermimpi setinggi langit.

Di sela pengabdian itu, ia juga dipercaya menjadi Kasi Keuangan Pemdes Bampalola (2016), serta Pendamping Lokal Dana Desa:

- 2016 di Desa Pura Barat dan Pura Utara Kecamatan Pulau Pura.
- 2017–2019 di Bampalola, Hulnani, Lefokisu, dan Aimoli di Kecamatan Alor Barat Laut.


Di titik ini, Majid belajar bahwa membangun manusia sama pentingnya dengan membangun desa; dan kejujuran adalah fondasi paling sunyi namun paling kokoh.

Tahun 2018–2019, ia lulus tes CPNS Daerah Kabupaten Kupang—sebuah pengakuan negara atas kesetiaannya pada jalan panjang pengabdian. 2019–2020, ia menjalani masa CPNS sebagai guru di SMPN 5 Satap Takari. Tahun 2020, ia resmi menjadi PNS Kabupaten Kupang dan mengabdi di SMP Negeri 14 Takari—tempat ia bukan hanya mengajar pelajaran, tetapi menanamkan harapan.

Langkah profesionalnya terus bertumbuh. 2022, ia lulus Pre-Tes PPG. Dan pada 2025, ia mencapai salah satu puncak perjuangan: Lulus PPG Kementerian Agama. Ini bukan sekadar gelar; ini adalah mahkota dari kesabaran panjang, doa orang tua, dan kerja yang tak pernah diumumkan.

Kisah Majid Adang adalah kisah tentang ketekunan yang menolak tunduk pada nasib. Tentang seorang anak buruh panjat kelapa yang memilih naik lebih tinggi—bukan ke pohon, tetapi ke cakrawala ilmu. Tentang jatuh bangun yang tidak memalukan, karena setiap jatuh diikuti bangkit yang lebih dewasa.

Secara filosofis, hidup Majid mengajarkan bahwa pendidikan sejati bukanlah garis lurus, melainkan spiral: berputar, naik, dan semakin matang. Bahwa kegagalan bukan lawan kesuksesan, melainkan guru yang paling jujur. Dan bahwa pengabdian—ketika dilakukan dengan ikhlas—akan menemukan jalannya sendiri menuju pengakuan.

Ia adalah bukti bahwa dari desa, dari keringat, dari luka-luka masa lalu, bisa lahir seorang pendidik yang utuh. Majid Adang bukan hanya nama; ia adalah narasi tentang harapan yang dikerjakan, bukan sekadar diimpikan.

Bokong, Desember, 19-2025
by: Guru Pedalaman 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan