Bahasa-Bahasa Nusa Tenggara Timur
Bahasa-Bahasa Nusa Tenggara Timur
(Sebuah Esai Puitis)
Di tanah yang dibentangkan matahari paling awal,
Nusa Tenggara Timur berbicara dengan banyak suara.
Angin tidak hanya berembus, ia berbahasa.
Batu tidak sekadar diam, ia menyimpan kata.
Di Timor, bahasa tumbuh seperti akar lontar: kuat, tegar, menembus musim kering. Uab Meto mengajarkan keteguhan,
Tetun menenun persaudaraan lintas batas,
Helong berbisik tentang laut dan kota tua
yang belajar bertahan di antara zaman.
Di Rote, kata-kata lahir dari gelombang.
Bahasa berbunyi seperti petikan sasando,
lembut, melingkar, penuh irama.
Di sana, manusia belajar bahwa hidup harus seimbang seperti laut yang memberi dan menarik kembali.
Flores adalah halaman panjang kisah manusia.
Setiap lembah punya lidah sendiri.
Manggarai, Ngadha, Lio, Ende, Sikka—
bahasa-bahasa yang menyimpan hukum adat, doa kepada leluhur, dan kesabaran perempuan yang menenun waktu ke dalam kain.
Lembata, Solor, Adonara
menyebut dunia dengan Lamaholot—
bahasa yang mengikat pulau-pulau kecil
dalam satu ikatan ingatan.
Di sana kata bukan milik individu,
melainkan milik bersama.
Lalu Alor dan Pantar:
tanah yang berbicara paling banyak.
Di sana bahasa lahir dari gunung, dari tebing, dari jarak yang memisahkan kampung.
Abui, Adang, Kamang, Teiwa: bukan sekadar bahasa, melainkan bukti bahwa perbedaan adalah cara alam menjaga keseimbangan.
Bahasa-bahasa NTT tidak ditulis untuk pamer, ia hidup dalam upacara, dalam sapaan pagi, dalam ratapan dan tawa.
Ia mengajarkan bahwa manusia
tidak pernah sendirian. selalu ada kata yang mengikatnya pada tanah, pada leluhur, pada Tuhan.
Maka bila satu bahasa pun hilang, yang runtuh bukan sekadar bunyi, melainkan cara melihat dunia.
Karena bahasa di Nusa Tenggara Timur
adalah rumah jiwa, tempat sejarah bernapas, dan masa depan belajar menyebut dirinya sendiri.
Di antara pulau-pulau yang tampak terpencar, bahasa-bahasa itu diam-diam menyatukan:
NTT— negeri yang berbicara dengan banyak lidah, namun satu hati.
Komentar