PARTAI BARU ATAU TIPU DAYA BARU?

Deklarasi di Atas Puing: Politik Baru atau Tipu Daya Baru?
Partai Gema Indonesia dan Partai Gerakan Rakyat dideklarasikan bukan di tengah kemakmuran, melainkan di atas puing-puing negeri. Puing hutan yang digunduli atas nama investasi. Puing sungai yang berubah menjadi saluran limbah. Puing akal sehat publik yang setiap hari diperkosa oleh korupsi yang dilembagakan.
Maka pertanyaannya bukan: mengapa lahir partai baru?
Pertanyaan sejatinya adalah: apakah kita masih percaya pada partai politik?

Di negeri ini, partai telah lama menjelma pabrik kekuasaan. Ia memproduksi elite, bukan keadilan. Ia mengolah suara rakyat, lalu membuang rakyat setelah pemilu usai.
Korupsi bukan penyimpangan, melainkan sistem yang dilanggengkan melalui kompromi, koalisi, dan transaksi gelap.
Dalam situasi seperti ini, deklarasi partai baru adalah tindakan politis yang berbahaya. berbahaya jika hanya mengulang kebohongan lama dengan kemasan baru; berbahaya pula bagi status quo jika benar-benar membawa agenda pembongkaran.

Hannah Arendt menegaskan bahwa ketika kebohongan menjadi fondasi politik, maka kehancuran ruang publik hanyalah soal waktu. Indonesia hari ini hidup di tengah kebohongan kolektif itu: kerusakan ekologis disebut pembangunan, perampasan ruang hidup disebut proyek strategis, dan korupsi disebut oknum.

Deklarasi Partai Gema Indonesia dan Partai Gerakan Rakyat terjadi saat bumi memberi peringatan keras.
Banjir, longsor, kekeringan, dan krisis pangan bukan musibah alam, ia adalah hasil kebijakan.
Seperti dikatakan Ulrich Beck, kita hidup dalam risk society yaitu; masyarakat yang menciptakan bencananya sendiri melalui keserakahan yang dilegalkan negara.
Jika partai politik masih memisahkan isu lingkungan dari isu kekuasaan, maka ia sedang berbohong.
Karena sejatinya, ekologi adalah politik paling dasar, yakni politik tentang siapa berhak hidup, siapa boleh dikorbankan.
Korupsi dan krisis ekologis bukan dua masalah berbeda.
Keduanya lahir dari logika yang sama:
bahwa segalanya bisa dibeli, ditukar, dan dinegosiasikan, bahkan masa depan anak cucu.
Naomi Klein mengingatkan bahwa kapitalisme yang rakus selalu membutuhkan krisis untuk bertahan. Maka pertanyaannya: partai baru ini akan menjadi penantang logika perusakan, atau justru ikut menunggangi krisis demi kursi kekuasaan?
Deklarasi politik di zaman kehancuran ekologis menuntut lebih dari sekadar visi dan misi. Ia menuntut keberpihakan yang brutal jujur yakni: 
- berani melawan oligarki,
- berani menolak dana politik kotor, 
- berani kehilangan kekuasaan demi mempertahankan integritas.
Jika tidak, maka partai-partai baru ini hanyalah gema kosong, gerakan yang ramai di panggung, tapi senyap saat rakyat digusur dan hutan dibakar.

Namun bila mereka sungguh memihak pada rakyat dan bumi, maka deklarasi ini bisa menjadi titik retak dalam sistem busuk yang selama ini tampak kokoh.
Seperti kata Antonio Gramsci, di saat krisis, yang lama sedang sekarat dan yang baru belum lahir, di ruang itulah monster bermunculan.
Partai politik hari ini harus memilih: mau menjadi monster baru, atau menjadi bidan sejarah yang membantu lahirnya politik bermartabat.

Rakyat tidak lagi menuntut kesempurnaan.
Mereka hanya menuntut kejujuran dan keberanian. Karena di negeri yang tenggelam oleh korupsi dan bencana ekologis, netralitas adalah kejahatan, dan politik tanpa perlawanan hanyalah bentuk lain dari pengkhianatan.

Bokong, Januari, 19-2025
By; Guru Pedalaman 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan