Makna Filosofis Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Makna Filosofis Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Tengah Bencana Ekologis dan Korupsi Tokoh Agama
Oleh : Majid Adang
Peristiwa Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menembus lapisan langit. Ia adalah peringatan keras dan halus sekaligus bagi umat manusia: tentang arah hidup, tanggung jawab moral, dan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, serta alam semesta.
Di tengah bencana ekologis yang kian parah dan krisis moral akibat korupsi tokoh agama, Isra’ Mi’raj kembali menantang nurani umat: apakah kita benar-benar naik secara spiritual, atau justru turun secara moral?

1. Isra’: Spirit Perjalanan, Bukan Pelarian
Isra’ adalah perjalanan horizontal: dari satu tempat ke tempat lain. Ini melambangkan tanggung jawab sosial. Nabi tidak langsung “naik ke langit”, tetapi terlebih dahulu melewati realitas bumi: tanah konflik, peradaban, dan sejarah.
Dalam konteks hari ini, Isra’ mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh memutus kepedulian sosial dan ekologis. Ketika bumi dirusak:
- hutan ditebang tanpa amanah,
- laut diracuni keserakahan,
- tanah dijual tanpa keadilan,
maka sejatinya manusia gagal menjalani makna Isra’. Ia ingin naik, tapi menginjak-injak bumi.

2. Mi’raj: Kenaikan Moral, Bukan Sekadar Ritual
Mi’raj adalah perjalanan vertikal: mendekat kepada Allah. Namun, yang dibawa pulang Nabi dari langit bukanlah kekuasaan, harta, atau simbol kemuliaan, melainkan shalat, disiplin ruhani yang membentuk kejujuran, keadilan, dan amanah.
Ironisnya, hari ini: banyak yang rajin berbicara tentang Tuhan, tetapi korupsi dilakukan atas nama agama, mimbar dijadikan alat legitimasi kepentingan.
Ini adalah Mi’raj palsu: naik di lisan, turun di perbuatan.

3. Bencana Ekologis: Tanda Kerusakan Akhlak, Bukan Sekadar Alam
Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi karena ulah tangan manusia. Bencana ekologis bukan hanya soal iklim atau teknologi, tetapi krisis amanah.
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa:
semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia menjaga ciptaan-Nya.
Jika seorang tokoh agama: membela perusakan alam, diam terhadap ketidakadilan, atau terlibat dalam korupsi,
maka ia sedang memutus hubungan langit dan bumi, ia mengkhianati makna Mi’raj itu sendiri.

4. Korupsi Tokoh Agama: Pengkhianatan Paling Sunyi
Korupsi oleh tokoh agama adalah bentuk kejahatan yang paling berbahaya karena:
1. merusak kepercayaan umat,
2. mematikan nurani publik, dan 
3. menjadikan agama alat pembenaran dosa.
Isra’ Mi’raj berdiri sebagai cermin keras: Nabi Muhammad SAW naik ke langit tanpa membawa kepentingan dunia, sementara hari ini ada yang membawa nama Tuhan untuk memperkaya diri.

5. Pesan Utama Isra’ Mi’raj bagi Zaman Krisis
Isra’ Mi’raj bukan perayaan seremonial, melainkan evaluasi peradaban:
- Naik iman, turun keserakahan
- Tinggi ibadah, rendah kesombongan
- Dekat kepada Tuhan, lembut kepada alam dan manusia
Jika shalat tidak mencegah korupsi, maka ada yang salah dalam pemahaman Mi’raj.
Jika ibadah tidak melahirkan keadilan ekologis, maka spiritualitas telah kehilangan maknanya.

Penutup
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah harus terlihat dalam keberpihakan pada kejujuran, keadilan, dan kelestarian alam. Tanpa itu, perjalanan ke langit hanyalah cerita, bukan transformasi.

Di zaman krisis ini, umat tidak membutuhkan lebih banyak simbol agama, tetapi lebih banyak akhlak Mi’raj yang hidup di bumi.

Bokong, 16-Januari 2026
by; Guru Pedalaman 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan