MTQ DAN TIGA BATU TUNGKU DI LEMBAH JABAL MALIK BANGPALOL
Tiga Batu Tungku di Panggung Langit Bangpalol
Di Bangpalol, Kampung Pemali, Alor Nusa Tenggara Timur, panggung MTQ tidak sekadar berdiri, tetapi ia dihadirkan. Ia tidak tumbuh dari besi dan beton, melainkan dari ingatan kolektif, dari anyaman nilai, dari napas adat yang telah lama hidup sebelum negara memberi nama pada upacara.
MTQ adalah kegiatan resmi negara, simbol kehadiran pemerintah di ruang iman. Namun di Bangpalol, negara tidak datang dengan wajah tunggal. Ia datang dengan sikap menunduk, bersedia duduk melingkar di atas tiga batu tungku, adat, agama, dan pemerintah, yang selama ini menjadi dasar kehidupan bersama.
Atap panggung itu beratapkan ilalang, seperti rumah-rumah yang lahir dari rahim tanah. Ia seolah berkata: agama tidak melayang di langit abstrak, tetapi bernaung di bawah kearifan bumi.
Di sinilah Al-Qur’an dilantunkan, bukan di atas marmer dingin, melainkan di atas kayu yang masih mengingat hutan, dan jerami yang masih menyimpan bau hujan.
Ornamen di puncak atap, sepasang simbol adat, bukan hiasan estetika semata.
Ia adalah penjaga makna. Ia menegaskan bahwa adat tidak ditinggalkan ketika agama dimuliakan, dan agama tidak dipisahkan ketika negara hadir. Ketiganya berdiri sejajar, saling menyangga, seperti tungku yang tak akan menopang periuk jika salah satu batunya dicabut.
Orang-orang berdiri mengelilingi panggung, tidak sebagai penonton semata, tetapi sebagai saksi peradaban. Wajah-wajah tua dan muda, laki-laki dan perempuan, menyatu dalam lingkaran yang sama, lingkaran Lego Lego, lingkaran musyawarah, lingkaran doa, lingkaran kebersamaan. Tidak ada jarak antara yang memerintah dan yang diperintah, antara yang membaca ayat dan yang mendengarkannya. Semua adalah bagian dari rumah besar bernama Bangpalol.
Di sinilah MTQ menemukan ruhnya yang paling jujur. Ia tidak menjadi alat dominasi simbolik, melainkan jembatan. Ayat-ayat suci tidak menghapus identitas lokal, justru berakar di dalamnya. Negara tidak memaksakan bentuk, melainkan menghormati isi. Dan adat, dengan kebijaksanaannya, membuka ruang agar iman dan kekuasaan dapat duduk tanpa saling meniadakan.
Bangpalol mengajarkan bahwa harmoni bukanlah hasil penyeragaman, melainkan perjumpaan yang saling mengakui. Bahwa modernitas tidak harus mematahkan tradisi. Bahwa agama akan semakin agung ketika ia berdialog dengan kearifan lokal, bukan menyingkirkannya.
Panggung MTQ itu adalah metafora Indonesia yang diimpikan:
Negeri yang bertuhan tanpa melupakan tanahnya,Bernegara tanpa menyingkirkan adatnya, Dan beradat tanpa menutup diri dari cahaya iman.
Di bawah atap ilalang Bangpalol, ayat-ayat suci tidak hanya dibaca, tetapi menjadi dasar pijakan. Dan dari situlah, makna tumbuh dengan kokoh.
Maebang, 08 Februari 2026
By: Guru Pedalaman
Komentar