FALSAFAH HIDUP ORANG ALOR
FALSAFAH HIDUP Orang Alor :
1. "Kuli mati mati, Haki Tifang Levo-Ite Kakang Aring"
2. "Tara miti, Tomi Nuku"
3. "Tom NU Tatang To Apuin, O Tarofe Afilung Puin".
4. "Mapi Tenang Eli, Mapi Mule Noa"
5. "Hiu NU O Pok, Name Nu Tafain"
6. " Bap So Tafain Tofangsah, Den lifang den Adang lol"
7. "Mong Let Dun Name Beng, Ho'k Fana Piri NU Ale'eng"
8. "AFAIN DI AFAIN, GARIANG DI GARIANG, Sei Lame eh di Olofe Ah"
Orang Alor hidup dengan berpegang pada pesan-pesan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pesan ini bukan hanya kata-kata adat, tetapi pedoman hidup yang mengajarkan cara menjadi manusia yang baik, hidup rukun, dan saling menghargai dalam perbedaan.
Leluhur Alor Pesisir berpesan:
“Kuli mati mati, Haki Tifang Levo.”
Artinya, di mana pun kita hidup dan meninggal, kita tidak boleh melupakan kampung halaman. Kampung dan tanah kelahiran adalah tempat asal kita, tempat kita belajar hidup, dan tempat kita kembali dalam ingatan dan tanggung jawab. Merantau boleh jauh, tetapi ingat asal-usul adalah kewajiban.
Leluhur Suku Abui mengajarkan:
“Tara miti, Tomi Nuku.”
Duduk bersama dan satu hati. Setiap masalah sebaiknya diselesaikan dengan berkumpul, berbicara baik-baik, dan saling mendengarkan. Dengan duduk bersama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua sama dan punya hak untuk berbicara.
Pesan ini sejalan dengan ajaran leluhur Adang Sepuluh Kampung:
“Tom Nu Tatang To Apuin, O Tarofe Afilung Puin.”
Satu hati dan bergandengan tangan. Masalah yang berat akan terasa ringan jika dihadapi bersama. Karena itu, orang Alor diajarkan untuk saling menolong, bekerja sama, dan menghargai perbedaan.
Leluhur Tujuh Kampung Pura menekankan pentingnya kasih sayang melalui pesan:
“Mapi Tenang Eli, Mapi Mule Noa.”
Kita diajarkan untuk saling mengasihi dan menyayangi sesama manusia. Perbedaan adat, agama, dan kebiasaan bukan alasan untuk bermusuhan, tetapi alasan untuk saling mengenal dan menjaga.
Leluhur Bangpalol mengingatkan asal-usul kita melalui pesan:
“Hiu Nu O Pok, Name Nu Tafain.”
Kita semua berasal dari satu moyang yang sama. Walaupun ada yang tinggal di gunung dan ada yang di pantai, ada yang beragama Kristen dan ada yang Islam, kita tetap satu keluarga besar.
Karena itu, leluhur juga berpesan:
“Mong Let Dun Name Beng, Ho’k Fana Piri Nu Ale’eng.”
Dari jauh orang terlihat berbeda, tetapi ketika sudah dekat, kita adalah satu. Siapa pun yang datang dan hidup bersama kita harus dianggap sebagai saudara.
Pesan ini dipertegas dalam ajaran sosial orang Bangpalol:
“Afain di Afain, Gariang di Gariang, See Lame eh di Olofe Ah.”
Anak kandung tetap dijaga, anak angkat tetap dirawat, dan orang yang datang tanpa tujuan pun dipanggil dan diberi makan. Ini mengajarkan bahwa setiap manusia harus diperlakukan dengan hormat dan kasih.
Dari semua pesan ini, dapat disimpulkan bahwa filosofi hidup orang Alor mengajarkan tiga hal utama:
mengingat asal-usul, hidup rukun dalam kebersamaan, dan menghargai setiap manusia tanpa membeda-bedakan. Selama nilai-nilai ini dijaga dan diteruskan, masyarakat Alor akan tetap kuat, damai, dan bersatu dalam perbedaan.
Bokong, 31 Januari 2026
By; Guru Pedalaman
Komentar