Postingan

FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR”

Gambar
FALI TAN “BAYAR BELIS/MAHAR” (Sebuah esai puitis-filosofis tentang adat Belis di Bampalola, Alor, NTT) Nafas Adat dan Martabat Perempuan di Bampalola "Gong dan Moko: Nada Cinta di Tanah Raja" Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu beratap ilalang, di kaki Gunung Raja, malam turun perlahan seperti doa yang menetes dari langit. Di tengah ruangan sederhana itu, duduklah para sulung suku Afen, suku yang bergelar Raja, penjaga jejak pertama kehidupan di bumi Bampalola. Di hadapan mereka, di atas meja kayu, terletak benda-benda sakral: Gong dan Moko, dua pusaka yang tidak sekadar logam, melainkan gema sejarah, pantulan suara arwah leluhur yang masih berbisik dalam angin malam. Percakapan dimulai dengan nada rendah, pelan, berat, dan penuh makna. Mereka tidak sekadar membicarakan belis atau mahar untuk sebuah pernikahan, tetapi menimbang keseimbangan semesta: hubungan antara laki-laki dan perempuan, antara raja dan panglima, antara bumi dan langit. Karena bagi orang Bampalola,...

MENCARI MAKNA DALAM LELAHNYA KURIKULUM

Gambar
Dalam Sunyi Kelas, Kurikulum Terus Berganti Sebuah Essay Puitis & Kritis yang lahir dari renungan mendalam seorang Guru di Pojok Negeri Di negeri kepulauan yang dibaptis sejarah dan derita ini, pendidikan adalah jantung yang terus berdegup, namun sering kali tak didengar detaknya. Kurikulum di Indonesia bukan sekadar perangkat belajar. Ia adalah cermin zaman, refleksi kekuasaan, arah politik, dan harapan yang sering digadaikan. Sejak 1947, ketika bangsa baru saja menyeka darah dari wajahnya, lahirlah Rencana Pelajaran pertama. Sederhana, penuh semangat nasionalisme, kurikulum ini bukan hanya mengajarkan hitungan dan ejaan, tetapi juga rasa, adalah rasa menjadi Indonesia yang merdeka, yang ingin anak-anaknya tumbuh dengan watak, bukan hanya angka. Tahun-tahun berlalu. 1952, 1964 rencana demi rencana terurai. Dibubuhi moral, keterampilan dan emosi. Sekolah tak lagi ruang diam, tapi ladang pembentukan jiwa dan raga. Namun gelombang politik tak pernah diam. 1968 datang, dan bersama den...

Tangan-Tangan Kecil yang Menghadirkan Negara di Kaki Gunung

Gambar
Tangan-Tangan Kecil yang Menghadirkan Negara di Ujung Negeri Di kaki Gunung Raja, di Kampung Pemali Bangpalol. yang oleh banyak orang disebut Kampung Tradisional, kami belajar satu rahasia: bahwa Akhir sering kali adalah suatu Permulaan. Tahun 2018, langkah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menjejak tanah tanpa air ini. Bukan sekadar kunjungan, melainkan pengakuan. Revitalisasi Desa Adat Bangpalol adalah penegasan bahwa tradisi bukan bayang-bayang masa lalu, tetapi akar yang menahan kita agar tidak tercerabut dari nilai dan tidak hanyut oleh zaman. Di hari itu, yang ditegakkan bukan hanya simbol adat, tetapi yang ditegakkan adalah martabat. Dan pada 2026, ketika Kementerian Sosial Republik Indonesia hadir melalui Direktur Lansia, membawa pengakuan bagi Yayasan Fajar Insan Sejahtera (YAFIS) Alor serta santunan bagi para lansia dan warga yang kurang mampu, Ada Nilai tersirat disana, yang turun bukan hanya bantuan, Tetapi Pengakuan. Bahwa di Ujung S...

Tujuh Argumentasi Ilmiah tentang Pengeras Suara di Masjid

Gambar
Tujuh Dalil Pengaturan Pengeras Suara pada Tempat Ibadah Pengaturan pengeras suara di masjid dan musala layak diapresiasi, terlepas dari pro dan kontra yang mengitarinya Selain mengajarkan kebaikan, Islam juga mengajarkan kebaikan itu harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Mengajak orang lain ibadah itu sangat baik, namun demikian ajakan itu pun harus dilakukan dengan cara-cara yang baik. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan pengeras suara atau mikrofon di tempat ibadah seperti masjid dan mushalla.  Dalam hal ini ada 7 dalil atau argumentasi ilmiah tentang pengaturan penggunaan pengeras suara yang layak dipahami dari Kitab I’lâmul Khâsh wal ‘Âmm bi Anna Iz’âjan Nâsi bil Mikrûfûn Harâm (Pemberitahuan Bagi Orang Pintar dan Orang Awam Bahwa Mengganggu orang Lain dengan Mikrofon Hukumnya Haram) karya Sayyid Zain bin Muhammad bin Husain Alydrus, Dosen Universitas Al-Ahgaf Yaman. Pertama, banyak ayat dan hadits yang memerintah untuk memelankan suara dalam shalat, dzi...

NTT “Miskin” di Atas Kertas

Gambar
NTT “Miskin” di Atas Kertas Telaah Kritis atas Pengukuran Kemiskinan dan Ketahanan Sosial Lokal Pendahuluan Nusa Tenggara Timur (NTT) hampir selalu tercantum dalam daftar provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin di NTT mencapai sekitar 17,50 persen. Angka ini kerap dipahami secara sederhana sebagai indikator kegagalan pembangunan. Namun, pemahaman tersebut menyimpan persoalan metodologis dan konseptual yang serius: kemiskinan diukur dengan indikator yang sempit dan tidak sepenuhnya mencerminkan realitas sosial-ekonomi masyarakat lokal. Esai ini berargumen bahwa kemiskinan di NTT bersifat statistik dan struktural, bukan semata-mata kemiskinan dalam arti ketidakmampuan bertahan hidup. Dengan menggunakan perspektif ekonomi pembangunan dan sosiologi, tulisan ini menunjukkan bahwa ukuran kemiskinan berbasis pengeluaran gagal menangkap ketahanan sosial, kemandirian subsistensial, dan modal ...

Kota Tua - Alor Kecil

Gambar
Kota Tua di Tanjung Kumbang Jejak Leluhur, Adat, dan Peradaban Islam di Desa Alor Kecil Desa Alor Kecil merupakan salah satu ruang sejarah penting di Pulau Alor yang menyimpan jejak panjang peradaban, perjumpaan budaya, dan nilai-nilai keislaman yang tumbuh secara organik dalam bingkai adat. Dalam bahasa adat lokal, Alor Kecil disebut Laffo Kisu, sementara dalam bahasa Adang dikenal sebagai Bang Atina. Kedua sebutan ini memiliki makna yang sama, yakni kampung kecil. Namun, di balik makna kesederhanaan tersebut, tersimpan kisah besar tentang asal-usul, kepemimpinan, dan kekerabatan lintas etnis yang membentuk wajah sosial Alor hingga hari ini. Pada masa Kerajaan Alor-Bungabali, wilayah Alor Kecil khususnya kawasan Tanjung Kumbang, pernah berdiri sebagai pusat kevetoran dan sekaligus kota pelabuhan laut pertama di Pulau Alor. Dari tanjung inilah jalur laut membuka pintu perjumpaan dengan dunia luar, menjadikan Alor Kecil bukan hanya sebagai kampung pesisir, tetapi sebagai si...

MTQ DAN TIGA BATU TUNGKU DI LEMBAH JABAL MALIK BANGPALOL

Gambar
Tiga Batu Tungku di Panggung Langit Bangpalol Di Bangpalol, Kampung Pemali, Alor Nusa Tenggara Timur, panggung MTQ tidak sekadar berdiri, tetapi ia dihadirkan. Ia tidak tumbuh dari besi dan beton, melainkan dari ingatan kolektif, dari anyaman nilai, dari napas adat yang telah lama hidup sebelum negara memberi nama pada upacara. MTQ adalah kegiatan resmi negara, simbol kehadiran pemerintah di ruang iman. Namun di Bangpalol, negara tidak datang dengan wajah tunggal. Ia datang dengan sikap menunduk, bersedia duduk melingkar di atas tiga batu tungku, adat, agama, dan pemerintah, yang selama ini menjadi dasar kehidupan bersama. Atap panggung itu beratapkan ilalang, seperti rumah-rumah yang lahir dari rahim tanah. Ia seolah berkata: agama tidak melayang di langit abstrak, tetapi bernaung di bawah kearifan bumi. Di sinilah Al-Qur’an dilantunkan, bukan di atas marmer dingin, melainkan di atas kayu yang masih mengingat hutan, dan jerami yang masih menyimpan bau hujan. Ornamen di pun...