MAJID ADANG: JEJAK PANJANG SEORANG ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB Ada manusia yang dilahirkan bukan untuk hidup mulus, melainkan untuk menguji makna keteguhan. Di antara tanah berbatu dan angin asin Alor, pada 7 Agustus 1985, lahirlah seorang anak bernama Majid Adang, anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ia lahir dari rahim kesederhanaan dan doa panjang: dari seorang ayah, Almarhum Zainuddin Ane, guru pemberantasan buta huruf—cikal bakal berdirinya MIS Bampalola —yang juga menggantungkan hidup sebagai buruh panjat kelapa di Kalabahi; dan seorang ibu, Mahadia Asri , ibu rumah tangga yang mengajarkan ketabahan lewat sunyi, dan kesetiaan lewat kerja tanpa panggung. Sejak awal, hidup Majid adalah perjumpaan antara ilmu dan keringat. Antara papan tulis dan batang kelapa. Antara cita-cita dan kenyataan yang seringkali mematahkan langkah—namun tak pernah memadamkan tekad. Pendidikan formalnya bermula di MIS Bampalola (1993–1999) . Di sanalah huruf-huruf pertama dibacanya, ...
Penjaga Api Leluhur di Rumah Arangbah Bang Di kaki Bukit Tulagadong, tempat kabut pagi menari di antara desir angin dan doa para leluhur, berdirilah sepasang insan: Muhammad Asri dan Fatimah Bashir. Bersama cucu kecil di pelukannya — titisan kasih dari anak sulung mereka, Aja Adi Putra Eki Asri dan Sufiyani Mulle, putri Banghana — mereka menjejak tanah leluhur dengan langkah yang sarat makna. Di belakang mereka, berdiri sebuah rumah bambu beratap ilalang. Bukan sekadar bangunan — tetapi “Rumah Adat Fet Arangbah Bang”, rumah yang menyimpan ruh sejarah dan jantung kebudayaan Suku Kapitang. “Arangbah” berarti pohon kusambi, pohon yang mencengkeram tanah dengan akar kesetiaan, sebagaimana suku ini memeluk nilai-nilai leluhur dengan keteguhan dan rasa hormat. “Bang” berarti rumah, tempat naungan tubuh dan jiwa, tempat darah dan cerita menyatu menjadi napas kehidupan. Mereka bukan sekadar keluarga — mereka adalah penjaga ingatan. Di wajah Muhammad Asri, tampak garis waktu yang me...
Eki Adang Tareh: Suara Corong Tua dari Bangpalol Di antara kabut pagi yang menggantung di lereng-lereng Alor, ada nama yang tak pernah padam dalam ingatan generasi: Kakek Bakar Adang, yang oleh rakyatnya disapa penuh hormat sebagai Eki Adang Tareh. Ia bukan raja, bukan pejabat besar, tapi suara corong tuanya pernah menggema lebih keras dari petir, dan keadilannya lebih dalam dari jurang di kaki gunung Bangpalol. Dulu, ketika dunia belum seramai kini, ketika jalan masih bertanah liat dan malam hanya diterangi lampu pelita, suara dari corong tua milik Eki Adang menjadi panggilan bagi setiap warga. Di bawah langit sederhana, suaranya menggetarkan dada, mengundang rakyat kecil dari setiap penjuru kampung untuk berkumpul, mendengar, dan mematuhi. Corong itu bukan sekadar alat, tapi simbol kuasa moral—suara yang lahir dari hati yang tulus, bukan dari ambisi kekuasaan. Eki Adang bukanlah penguasa dengan tongkat emas. Ia hanya membawa sebatang rotan, bukan untuk menindas, tapi untu...
Komentar