ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB
MAJID ADANG: JEJAK PANJANG SEORANG ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB Ada manusia yang dilahirkan bukan untuk hidup mulus, melainkan untuk menguji makna keteguhan. Di antara tanah berbatu dan angin asin Alor, pada 7 Agustus 1985, lahirlah seorang anak bernama Majid Adang, anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ia lahir dari rahim kesederhanaan dan doa panjang: dari seorang ayah, Almarhum Zainuddin Ane, guru pemberantasan buta huruf—cikal bakal berdirinya MIS Bampalola —yang juga menggantungkan hidup sebagai buruh panjat kelapa di Kalabahi; dan seorang ibu, Mahadia Asri , ibu rumah tangga yang mengajarkan ketabahan lewat sunyi, dan kesetiaan lewat kerja tanpa panggung. Sejak awal, hidup Majid adalah perjumpaan antara ilmu dan keringat. Antara papan tulis dan batang kelapa. Antara cita-cita dan kenyataan yang seringkali mematahkan langkah—namun tak pernah memadamkan tekad. Pendidikan formalnya bermula di MIS Bampalola (1993–1999) . Di sanalah huruf-huruf pertama dibacanya, ...
Komentar