SD NEGERI BOOF - KUANFATU, TTS

Esai Puitis dan Filosofis: 
“Sekolah di Ujung Angin, Cermin Luka Bangsa”
Sumber video : @Melchan Banu
Di sebuah lembah kecil yang dipeluk angin kering dari selatan, berdirilah SD Negeri Boof, di Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Sekolah itu lebih mirip kandang ayam ketimbang rumah ilmu.
Atapnya dari seng karatan, bergetar setiap kali angin musim timur melintas.
Dindingnya dari pelepah lontar dan cincangan bambu, diikat dengan tali sabut kelapa.
Tiangnya dari kayu bulat yang lapuk dimakan waktu, dan lantainya, bukan ubin, bukan semen, melainkan tanah merah yang keras di musim kemarau dan berlumpur di musim hujan.

Namun di ruang yang sederhana itu, ratusan anak-anak kecil datang setiap pagi dengan wajah berseri, membawa mimpi sebesar dunia.
Beberapa dari mereka belajar sambil berdiri, bukan karena semangat yang meluap, tetapi karena tak ada meja dan kursi untuk duduk.
Yang tersisa hanya beberapa bangku reot, disangga batu, diganjal kayu patah.
Mereka menulis di lutut, menyalin huruf-huruf masa depan dengan tangan berdebu.

Di tengah keterbatasan itu, berdirilah sosok perempuan tabah: Ibu Melchan Banu, seorang guru yang memilih bertahan ketika banyak orang lain menyerah.
Dengan langkah sederhana dan hati besar, ia menjadi saksi sekaligus penjaga api kecil pendidikan di ujung negeri.
Melihat murid-muridnya belajar di lantai tanah, ia merasa tak sanggup diam.
Dengan keberanian seorang pendidik sejati, ia mengabadikan potret sekolah itu dan membagikannya ke TikTok, berharap dunia menoleh barang sejenak.

Ia tak meminta belas kasihan, hanya perhatian dan keadilan.
Namun dunia maya adalah panggung yang kejam.
Sebagian orang percaya dan terenyuh, meneteskan air mata di balik layar.
Sebagian lain menertawakan dan meragukan, menganggap itu sandiwara demi simpati.
Mereka tak tahu, bahwa setiap karat di seng sekolah itu adalah bukti nyata, dan setiap dinding lontar itu berbisik lirih tentang perjuangan yang diabaikan.

Ironisnya, semua ini terjadi di tengah gegap gempita negeri yang mengumandangkan “Merdeka Belajar”.
Negeri yang bangga dengan anggaran MBG sebesar 71 triliun rupiah, tapi gagal melihat sekolah-sekolah kecil yang terpinggirkan.
Anggaran raksasa yang berputar di ruang ber-AC, tak pernah benar-benar menetes ke tanah merah tempat anak-anak Boof menulis impian mereka.

Anak-anak di sana tak tahu apa itu triliunan, tak paham tentang APBN atau reformasi birokrasi.
Yang mereka tahu hanyalah: “Hari ini kami belajar, meski tanpa kursi.”
Yang mereka harapkan hanyalah: “Semoga hujan tak turun, agar buku kami tak basah.”

Dan Ibu Melchan Banu, dengan hati yang terbuat dari keberanian dan cinta, terus datang setiap pagi.
Ia mengajar bukan karena gaji, tapi karena panggilan nurani.
Ia sadar bahwa di balik atap bocor itu, ada masa depan bangsa yang sedang belajar mengeja huruf pertama dari kata Harapan.

Namun, sampai kapan seorang guru harus berjuang sendirian di antara karat dan debu?
Sampai kapan suara-suara seperti Ibu Melchan hanya dianggap keluhan, bukan peringatan nurani bangsa?
Apakah 71 triliun rupiah itu terlalu kecil untuk membangun satu ruang kelas yang layak di Boof?
Atau terlalu besar untuk disentuh dengan kejujuran?

Sekolah Boof bukan sekadar bangunan reyot. Ia adalah cermin jujur dari wajah pendidikan kita.
Cermin yang tak memantulkan pencitraan, tapi luka yang nyata.
Dari sana kita belajar bahwa kemajuan bukan diukur dari beton dan cat baru, tapi dari sejauh mana kita berani mendengar jeritan sunyi dari pinggir negeri.

Dan mungkin, suatu hari kelak, seorang anak Boof akan berdiri di mimbar bangsa dan berkata dengan lantang:

“Aku pernah belajar di lantai tanah, di bawah atap bocor, bersama guru yang hatinya seluas langit. Dari sanalah aku tahu bahwa pendidikan sejati bukan soal gedung megah, tapi tentang cinta yang tidak menyerah.”

Maka, SD Negeri Boof bukan sekadar cerita sedih, ia adalah amanat besar.
Ibu Melchan Banu bukan sekadar guru, ia adalah penjaga nurani bangsa.
Dan setiap anak yang belajar di sana adalah ayat hidup tentang arti keteguhan.

Selama masih ada guru yang berani bersuara, dan anak-anak yang tetap datang meski tanpa kursi, Indonesia masih punya harapan. Asal kita mau menoleh,
dan mengakui bahwa Boof adalah bagian dari kita, bukan pinggiran, tapi pusat nurani yang sedang menunggu kita pulang.

By; Majid Adang (Guru Pedalaman)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan