Tangga di Punggung Onta: Jejak Seorang Putra Raja Tanah

Jejak Langkah Zeth Libing di Kampung Pemali

Tangga di Punggung Onta: Jejak Seorang Putra Raja Tanah

Esai Filosofis tentang Kepemimpinan Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si di Bampalola

Dari Tanah Pantar Menuju Hati Bampalola

 Di timur jauh Nusantara, di gugusan pulau-pulau yang diselimuti ombak dan doa, lahirlah seorang pemimpin yang berjalan dengan langkah leluhur. Ia bukan sekadar pejabat yang memegang kekuasaan, tetapi seorang anak tanah yang membawa darah sejarah dan panggilan pengabdian. Namanya Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si, Penjabat Bupati Alor tahun 2024, yang dalam masa kepemimpinannya menorehkan karya tak biasa,membangun tangga seribu di jalan punggung onta menuju kampung tradisional Bangpalol, negeri adat di Tulagadong, Bampalola.

Ia datang bukan dengan gemuruh pidato, bukan pula dengan janji politik, tetapi dengan langkah sederhana seorang anak negeri yang pulang membawa harapan. Di pundaknya bukan hanya beban jabatan, tetapi tanggung jawab sejarah: menyambung kembali urat nadi tradisi dan kemanusiaan di tanah kelahirannya.

Batu Demi Batu, Langkah Demi Langkah

1. Peletakan Batu Pertama: Doa yang Menyentuh Tanah

Dalam foto pertama yang menggetarkan itu, tampak sang pemimpin berbaju kuning dan bertopi koboi berjalan di antara para perempuan adat yang menenun doa di udara. Di sekelilingnya, rakyat, TNI, dan Polri bersatu dalam langkah serempak, menandai awal perjalanan yang suci: peletakan batu pertama pembangunan tangga seribu di punggung onta.

Bagi sebagian orang, proyek ini mungkin tampak mustahil. Bagaimana mungkin membangun jalan di lereng curam yang menanjak hampir sembilan puluh derajat? Tapi bagi orang Bampalola, mustahil adalah bahasa yang belum disentuh oleh iman dan gotong royong.

Zeth Sony Libing mengajarkan bahwa pembangunan bukan dimulai dari alat berat, tetapi dari keyakinan. Ia hadir bukan hanya membawa perintah, tetapi membawa semangat,semangat yang menghidupkan kembali nilai talo’ni (kebersamaan), balanda (kerja tulus), dan lamalera (pengorbanan untuk kehidupan bersama).

“Batu pertama ini bukan sekadar batu,” ucap seorang tua adat kala itu, “ini adalah doa yang menjejak tanah.”

Dan memang, setiap batu yang ditanam hari itu adalah simbol iman: iman pada pemimpin yang mengerti makna turun ke bumi, menyentuh lumpur rakyatnya, dan berdiri sejajar dalam kerja nyata.

2. Gotong Royong: Tentara, Polisi, dan Rakyat dalam Satu Nafas 

Foto kedua memperlihatkan sebuah pemandangan yang nyaris mistik dalam kesederhanaannya: di tengah hutan lebat dan terjal, puluhan orang bekerja bersama. Ada aparat berseragam, ada lelaki bertelanjang dada, ada ibu-ibu yang membawa air dan batu. Mereka bukan dibayar, mereka digerakkan oleh semangat yang sama: bekerja untuk kampung, bekerja untuk warisan anak cucu.

Di situ, sang Pj. Bupati tampak berjalan di antara mereka, tak berjarak. Ia menunduk, menatap kerja tangan rakyatnya dengan mata yang penuh hormat. Tidak ada perintah yang keras, hanya teladan yang lembut. Ia menyatu dengan rakyat dalam debu dan peluh.

Gotong royong itu bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi sebuah peristiwa spiritual,sebuah ibadah dalam kebersamaan.
Sebuah ayat dari Al-Qur’an (QS. Al-Ma’idah: 2) bergema dalam peristiwa itu:

“...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa...”

Juga gema dari Injil Lukas 6:38:

“Berilah, maka kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke pangkuanmu.”

Dalam cahaya dua kitab ini, kerja mereka menjadi suci. Sebab tangan yang mengangkat batu bukan sekadar bekerja,ia sedang menulis sejarah kasih dan pengorbanan di tanah yang mereka cintai.

3. Tangga Seribu: Monumen Harapan dan Warisan

Lihatlah hasilnya, sebagaimana terekam dalam foto ketiga: tangga seribu menjulang dari kaki bukit hingga puncak, menghubungkan dunia bawah dan dunia atas, menyambung kampung adat Bangpalol yang disebut kampung pemali di Tulagadong.

Tangga itu kini bukan sekadar akses jalan; ia adalah simbol perjuangan kolektif, lambang transendensi manusia atas keterbatasan. Ia mengingatkan kita pada ayat Zabur 37:23:

“Langkah orang yang benar ditetapkan oleh Tuhan, dan Ia berkenan akan jalannya.”

Setiap anak tangga memantulkan nilai-nilai luhur: kerja, iman, dan cinta tanah. Lumut yang tumbuh di sela-selanya menjadi saksi waktu; dan udara yang mengalun di atasnya membawa cerita tentang seorang pemimpin yang tak menunggu perintah pusat, tetapi bertindak atas suara nurani.

Bagi masyarakat Bampalola, Dr. Zeth Sony Libing bukan sekadar Penjabat Bupati; ia adalah pahlawan dalam diam. Ia mewakili wajah kepemimpinan yang langka,yang hadir bukan untuk dipuji, tetapi untuk menyalakan api harapan di dada rakyatnya. Ia tidak membangun gedung tinggi di kota, tetapi tangga di hutan,namun justru dari sana, ia membangun jembatan spiritual antara pemimpin dan rakyat.

Pemimpin yang Menyatu dengan Rakyat

Dalam setiap masa, selalu ada sosok yang datang untuk mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan soal kursi, tapi soal hati.
Dr. Drs. Zeth Sony Libing, M.Si adalah salah satunya.
Ia datang sebagai penjabat, namun pulang sebagai legenda.
Tangga seribu di Bampalola bukan hanya proyek fisik, melainkan puisi yang ditulis di batu dan tanah.

Dalam Wedha Smrti tertulis:

“Pemimpin sejati adalah ia yang berjalan di depan untuk memberi teladan, di tengah untuk memberi semangat, dan di belakang untuk memastikan tak ada yang tertinggal.”

Demikianlah Zeth Sony Libing di mata rakyat Bampalola. Ia berjalan di depan untuk menantang terjalnya bukit, di tengah rakyat untuk menguatkan langkah, dan di belakang untuk memastikan semua mencapai puncak bersama.

Kini, setiap kali matahari sore menembus sela pepohonan di Tulagadong, bayangan tangga seribu itu memanjang di tanah merah Bampalola. Di sanalah sejarah beristirahat,dan nama beliau hidup sebagai doa yang tak henti disebut:
Pemimpin yang membangun bukan untuk dikenang,
tetapi agar rakyatnya bisa melangkah.

 

By: Majid Adang (Guru Pedalaman)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan