KISAH INSPIRATIF

DARI BURUH MENJADI GURU 




Dari Pundak Keringat ke Cahaya Pengabdian

Kisah Hidup Majid Adang

Di sebuah dusun kecil, di kaki Gunung Raja Bampalola di Alor, Nusa Tenggara Timur, seorang anak lahir dan tumbuh dalam kesederhanaan. Ia bernama Majid Adang, anak kedelapan dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Zainuddin Ane (Alm.), pernah menjadi guru di Sekolah Pemberantasan Buta Huruf (SPBH), cikal bakal dari Madrasah Ibtidaiyah Al-Islamiyah Bampalola yang kini berdiri kokoh. Namun perjalanan hidup membawa sang ayah harus berganti peran: dari seorang pendidik yang menyalakan lentera ilmu, menjadi seorang buruh panjat kelapa demi menghidupi keluarga. Dari ketinggian pohon kelapa, sang ayah menorehkan pelajaran lain kepada anak-anaknya: bahwa kehormatan bukan pada pekerjaan, melainkan pada kesungguhan dan kejujuran dalam mencari rezeki.

Dari kedua orang tuanya, ayah yang sederhana namun pekerja keras, dan ibu, Mahadia Asri, yang penuh keteguhan dalam do'a, Majid mewarisi daya juang yang kelak menjadi arah hidupnya.

Menjejak Jalan Panjang

Tahun 2006, selepas menyelesaikan pendidikan di MAN Kalabahi, Majid muda memutuskan merantau ke Surabaya. Harapannya sederhana: melanjutkan kuliah, menggapai cita-cita agar kelak bisa mengangkat derajat keluarga. Namun kenyataan berkata lain. Biaya yang serba terbatas membuat langkahnya terhenti. Di sanalah ia diuji: apakah harus menyerah, ataukah mencari jalan lain?

Ia memilih jalan kedua. Surabaya ditinggalkan, Batam menjadi tujuan. Di kota industri itu, Majid menyalakan kembali mimpinya. Ia bekerja sebagai buruh harian lepas di Pelabuhan Batu Ampar. Dari pagi hingga sore, pundaknya menahan karung demi karung, keringatnya menetes di tengah hiruk-pikuk pelabuhan. Lima tahun tujuh bulan lamanya ia bertahan.

Di sana, ia sempat bekerja di Komplek Pergudangan Kartika Lancang Kuning - batu Ampar selama tiga tahun, kemudian pindah ke Komplek Industri I Tunas, Batam Centre, selama dua tahun tujuh bulan. Siang hari bekerja dari jam delapan pagi sampai enam sore, lalu bergegas menjemput malam dengan kuliah di STAI Ibnu Sina Batam dari pukul tujuh hingga sepuluh malam. Empat tahun penuh rutinitas itu ia jalani tanpa henti. Kerja keras di siang hari, menuntut ilmu di malam hari.

Dalam kesunyian malam, ketika tubuhnya lelah, Majid selalu ingat wajah ayahnya yang dulu memanjat kelapa untuk anak-anaknya, dan ibunya yang tak pernah berhenti berdoa. Itulah bahan bakar yang membuatnya tetap berdiri.

Pulang untuk Mengabdi

Tahun 2012, setelah menyelesaikan pendidikannya, Majid memilih pulang ke tanah kelahiran. Banyak orang mungkin akan memilih tetap tinggal di kota besar, mengejar penghasilan, atau mencari kenyamanan hidup. Namun Majid memilih jalan lain: mengabdi sebagai guru honorer di Alor.

Gajinya kala itu hanya Rp. 87.500 per bulansebuah angka yang hampir tak masuk akal untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun Majid tidak mengukur pengabdian dengan rupiah. Baginya, mendidik anak-anak pelosok jauh lebih berharga daripada sekadar hitungan materi. Enam tahun penuh ia bertahan dalam kesunyian perjuangan itu, dari Juli 2012 hingga Desember 2018.

Banyak yang mungkin bertanya: apa yang membuatnya sanggup bertahan dengan gaji sekecil itu? Jawabannya sederhana: panggilan hati dan cinta pada pendidikan. Ia percaya, bahwa setiap anak berhak mendapatkan cahaya ilmu, walau di ujung pulau, walau di kelas berdinding papan yang mungkin nyaris roboh.

Cahaya di Perbatasan

Perjalanan panjang itu akhirnya berbuah. Kini, Majid Adang mengabdi sebagai seorang PNS di SMP Negeri 14 Takari, sebuah sekolah di kawasan perbatasan NKRI–RDTL. Dari seorang buruh pelabuhan yang memanggul karung di Batam, ia kini memanggul tanggung jawab yang jauh lebih mulia: membentuk karakter generasi bangsa di batas negeri.

Kisah hidupnya adalah bukti nyata bahwa jalan sukses tidak selalu lurus, kadang berliku, penuh jatuh bangun, bahkan penuh air mata. Namun setiap tetes keringat, setiap karung yang pernah ia pikul, setiap malam kuliah setelah lelah bekerja, semua itu membentuk dirinya menjadi manusia yang kuat, rendah hati, dan penuh dedikasi.

Pesan Moral dari Perjalanan Hidupnya

Kisah Majid Adang mengajarkan kita bahwa:

  1. Kesulitan bukan alasan untuk berhenti, melainkan alasan untuk terus berjuang.

  2. Orang tua adalah sumber inspirasi terbesar. Dari ayahnya yang memanjat kelapa hingga ibunya yang tak pernah lelah berdoa, Majid belajar arti pengorbanan dan ketulusan.

  3. Ilmu dan pengabdian jauh lebih mulia daripada harta. Walau hanya menerima Rp. 87.500, ia tetap mengajar dengan sepenuh hati.

  4. Sukses sejati bukan soal jabatan atau harta, melainkan soal keberanian untuk memberi manfaat.

Hari ini, Majid berdiri di kelas, bukan lagi di dermaga. Namun pundaknya tetap kokoh memikul beban, bukan lagi karung-karung berat, melainkan harapan generasi muda bangsa.


Penutup: Doa dan Harapan

Hidup adalah perjalanan yang penuh ujian, dan setiap ujian membawa hikmah. Dari seorang ayah yang memanjat kelapa demi sesuap nasi, hingga seorang anak yang memikul karung di pelabuhan, kini perjalanan itu bermuara pada pengabdian di tapal batas negeri.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Majid Adang telah membuktikan makna ayat ini. Bahwa dengan usaha, kesabaran, dan doa, perubahan itu nyata adanya. Dari pundak yang dulu hanya menahan beban berat karung, kini ia menanggung beban mulia: mencerdaskan anak bangsa.

Semoga kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa keberkahan hidup tidak selalu hadir dalam bentuk harta, melainkan dalam bentuk kebermanfaatan. Dan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, kesehatan, serta kekuatan agar pengabdian itu terus berlanjut hingga akhir hayat.

“Ya Allah, jadikanlah setiap keringat kami sebagai saksi perjuangan, setiap langkah kami sebagai jalan menuju ridha-Mu, dan setiap ilmu yang kami ajarkan sebagai amal jariyah yang tak pernah putus.”


by; Mz. Ane 

Komentar