SANG TOKOH - O'BEL BANG TOU

Kisah Eyang O’Bel Bang Tou
Foto Eyang O'Bel Bang Tou

Puluhan tahun telah berlalu sejak Eyang O’Bel Bang Tou meninggalkan dunia fana ini. Namun, nama beliau tidak pernah padam dari ingatan. Ia hidup bukan sekadar dalam darah keturunan, tetapi dalam cerita yang dibisikkan dari mulut ke mulut, dalam adat yang dijaga, dan dalam tanah leluhur yang tetap berdiri kokoh.

Nama beliau menyimpan makna besar: O’Bel Bang Tou — O’Bel Tiga Kampung: Afa’K, Folbo’, dan Bangpalol. Tiga kampung ini dahulu ibarat tiga tiang penyangga, dan Eyang adalah simpul yang menyatukan. Beliau tidak hanya menjadi tokoh adat di satu kampung, melainkan roh pemersatu bagi tiga tanah asal.

Dalam ingatan orang tua-tua, sosok Eyang tampak duduk di kursi kayu, kopiah hitam menutupi rambutnya, mata tajam menatap ke depan, seakan menembus waktu, membaca masa lalu dan menakar masa depan. Di tangan beliau terpegang tongkat, tanda keteguhan dan kekuatan. Di sampingnya berdiri radio tua di atas Moko, sebuah lambang yang unik: radio sebagai penghubung dunia modern, Moko sebagai pengingat akar tradisi. Dua benda itu menjadi saksi keseimbangan yang dijaga Eyang—antara dunia luar yang datang dan adat leluhur yang tetap dipertahankan.

Pakaiannya sederhana: sarung, kemeja putih, dan sorban putih bermotif bunga. Putih adalah lambang kesucian batin, bunga adalah lambang kehidupan yang terus mekar. Dari penampilan itu terpancar pesan: kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh kemewahan, melainkan oleh kejernihan hati dan kebijaksanaan laku.

Bersama Eyang Bana Pen, beliau membangun rumah tangga, melahirkan 4 anak, yang berkembang menjadi 12 cucu, dan kini berlanjut dengan puluhan cicit. Setiap anak, cucu, dan cicit adalah jejak hidupnya yang terus menyalakan api warisan: api kasih, api kebersamaan, dan api adat.

Kini, Eyang O’Bel Bang Tou telah lama berpulang. Tetapi setiap kali nama beliau disebut, terasa seolah beliau masih hadir: dalam nasihat orang tua kepada anaknya, dalam adat yang dijaga di balai kampung, dalam keteguhan masyarakat yang tetap bersatu meski zaman berubah.

Pesan beliau seakan abadi:
"Jangan biarkan akar terputus oleh angin perubahan. Peganglah adat sebagai tali, peganglah persatuan sebagai tiang, dan peganglah kasih sebagai nafas. Sebab tanpa itu semua, manusia hanyalah daun kering yang mudah terhempas."

Maka, Eyang O’Bel Bang Tou adalah bukan sekadar nama seorang leluhur. Beliau adalah tanda sejarah, penjaga adat, dan cahaya yang tetap menerangi generasi.

Syair O'Bel Bang Tou
O’Bel Bang Tou, tiga kampung berpadu,
Afa’K, Folbo’, Bangpalol bersatu.
Engkau duduk bertongkat teguh,
Mata tajam menembus waktu.

Radio tua di atas Moko,
Lambang zaman yang saling bertemu.
Sarung putih, sorban berbunga,
Kesucian hati jadi penuntun semua.

Puluhan tahun engkau berpulang,
Namun nama tetap bergema panjang.
Anak, cucu, cicit berderet,
Adat dan kasih tetap engkau wariskan.

Wahai leluhur, penjaga persatuan,
Pesanmu abadi di setiap zaman:
Peganglah adat, jaga persaudaraan,
Kasih dan persatuan jadi kekuatan.

By; Majid Adang Ane.
Cucu dari garis keturunan Pen Oko (Asri Oko)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANAK ZAMAN YANG MENJINAKKAN NASIB

Situs Fet Arangbah Bang

Keadilan di ujung Rotan