JEJAK LELUHUR
_Warisan Petuah Bapak Kira Ane_
*PENJAGA ADAT DARI KAFIN LELANG*
*FILOSOFI KEHIDUPAN BAPAK KIRA ANE*
“Sabar Seluas Laut, Persaudaraan Seteguh Gunung”
Warisan Petuah dan Kisah Leluhur Bapak Kira Ane dari Bangpalol.
*Biografi Singkat Bapak Kira Ane*
Di Bangpalol, sejarah dan adat suku Kafin tidak bisa dilepaskan dari nama seorang tokoh besar: Bapak Kira Ane. Beliau adalah penjaga kearifan, penutur sejarah, dan penghubung generasi yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan sukunya.
Bersama istrinya tercinta, Mama Mone Bail, beliau membangun keluarga besar yang penuh kasih sayang. Dari pernikahan itu lahir 6 orang anak, yang kemudian berkembang menjadi 36 cucu dan puluhan cece (cicit). Keturunannya adalah bukti nyata bahwa kehidupan dan ajaran beliau terus berlanjut, mengalir dari darah dan napas anak cucu yang masih hidup hari ini.
Walau telah meninggal dunia puluhan tahun silam, nama Bapak Kira Ane tetap hidup dalam ingatan. Beliau tidak hanya dikenang karena perannya sebagai tokoh adat, tetapi juga karena petuah-petuahnya yang dalam, penuh makna, dan menuntun banyak orang. Salah satu pesan beliau yang masih dipegang teguh hingga kini adalah:
*_“Talibung ho na bala, tata safau he’e pi ahal ubang.”_*
Petuah ini bukan sekadar untaian kata, melainkan jalan hidup. Ia mengajarkan agar manusia selalu menimbang dalam bertindak, menata diri dalam setiap langkah, serta menghormati sesama sebagai sesama ciptaan Tuhan. Dalam kalimat itu tersimpan pesan tentang kebijaksanaan, kesabaran, keteraturan, dan penghormatan, empat tiang yang menjadi dasar bagi kehidupan yang rukun.
*Warisan Filosofis untuk Anak Cucu*
Bagi anak cucu, sosok Bapak Kira Ane adalah cermin kebijaksanaan. Beliau mengajarkan bahwa adat bukan sekadar aturan, tetapi jiwa yang menjaga harmoni. Sejarah bukan sekadar cerita, tetapi cahaya yang menuntun arah.
Mengenang beliau berarti mengingat asal-usul, menghargai leluhur, dan merawat warisan budaya. Karena sejatinya, hidup tanpa adat dan sejarah adalah hidup yang kehilangan akar.
*Untuk anak, cucu, dan cece:*
Jangan lupakan tanah asalmu, sebab di situlah darahmu bermula.
Jangan abaikan adatmu, sebab di sanalah martabatmu berdiri.
Jangan tinggalkan petuah leluhurmu, sebab di situlah jalan hidupmu terjaga.
Selama nama Bapak Kira Ane masih disebut, selama petuahnya masih diingat, maka beliau tidak pernah benar-benar pergi. Ia hidup di setiap langkah generasi penerusnya, menjadi suara sunyi yang membisikkan arah di tengah kebingungan zaman.
*Biografi Filosofis Bapak Kira Ane*
Di tanah Bangpalol, nama Bapak Kira Ane dikenang sebagai seorang tokoh adat, penutur sejarah, sekaligus penjaga jati diri suku Kafin. Beliau bukan hanya seorang kepala keluarga, tetapi juga seorang guru kehidupan yang mengajarkan nilai-nilai luhur kepada keturunannya dan kepada seluruh masyarakat.
Bersama istrinya, Mama Mone Bail, beliau membangun keluarga besar yang rukun. Dari rumah mereka, tumbuh 6 orang anak, berkembang menjadi 36 cucu, dan berlanjut hingga puluhan cece (cicit). Keluarga ini adalah pohon besar yang akarnya ditanam oleh beliau, dan buahnya kini dinikmati oleh generasi penerus.
*Petuah-petuah Kehidupan*
Kehidupan Bapak Kira Ane adalah sekolah kebijaksanaan. Beliau meninggalkan warisan bukan berupa harta, melainkan kata-kata yang menjadi penuntun hidup:
1. “Talibung ho na bala, tata safau he’e pi ahal ubang.”
Pesan agar setiap manusia menimbang tindakan, menata diri, dan menjaga keharmonisan dengan sesama serta dengan Tuhan.
2. “Por ho oh sah.”
Artinya: Sabar itu tidak ada habisnya.
Dari sabar lahir kekuatan untuk bertahan, kebeningan hati untuk berpikir jernih, dan keberanian untuk melangkah tanpa mengorbankan keharmonisan.
3. “Hel luling mi he tafeng mi, madong bang om mi he’e diail so mi tofang.”
Artinya: Di luar itu ipar, tetapi saat sudah di dalam rumah maka kakak-adik yang lebih penting.
Petuah ini menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan. Di hadapan orang lain, kita bisa saja berbeda, tetapi di dalam keluarga kita harus selalu satu, saling menopang, saling melindungi.
*Warisan untuk Anak Cucu*
Anak, cucu, dan cece dari Bapak Kira Ane harus selalu mengingat:
Sabar adalah kunci kehidupan. Dengan sabar, luka bisa sembuh, perselisihan bisa reda, dan jalan keluar selalu terbuka.
Persaudaraan adalah benteng keluarga. Kakak-adik harus menjadi pelindung satu sama lain, sebab hanya dengan kebersamaan keluarga akan tetap kuat menghadapi zaman.
Adat dan sejarah adalah akar identitas. Jangan pernah biarkan akar itu tercerabut, sebab tanpa akar, pohon kehidupan akan tumbang.
Bapak Kira Ane telah meninggalkan dunia puluhan tahun lalu, namun warisan petuah-nya tetap hidup. Setiap kali anak cucu mengulang kata-kata beliau, sejatinya mereka sedang menyalakan kembali api kebijaksanaan yang tak pernah padam.
Selama sabda beliau masih dijaga, selama persaudaraan masih dirawat, selama adat masih dihormati, maka nama Bapak Kira Ane akan terus hidup bukan hanya dalam kenangan, tetapi juga dalam darah dan jiwa keturunannya.
*Kisah Leluhur: Bapak Kira Ane*
Anak cucu, dengarkan baik-baik,
karena apa yang kakekmu tinggalkan bukanlah emas, bukanlah perak, melainkan kata-kata hidup yang akan menuntun langkahmu.
Dulu, di tanah Bangpalol, hiduplah seorang lelaki bijak bernama Bapak *Kira Ane* . Beliau bukan sekadar seorang ayah dan kakek, tetapi juga penjaga adat dan penutur sejarah suku Kafin. Dari mulutnya, cerita leluhur mengalir seperti sungai, memberi air bagi tanah kering, menyejukkan hati yang gelisah.
Bersama istrinya, Mama *Mone Bail* , beliau menanam sebuah pohon kehidupan. Dari pohon itu lahir enam cabang besar: enam orang anak. Dari cabang itu tumbuh ranting: tiga puluh enam cucu. Dan dari ranting, muncullah tunas-tunas baru: puluhan cece yang kini berlarian di halaman rumah kehidupan.
*Petuah yang Menjadi Akar*
Bapak Kira Ane selalu berkata,
_“Talibung ho na bala, tata safau he’e pi ahal ubang.”_
Artinya: timbanglah langkahmu, aturlah dirimu, dan hormatilah sesamamu.
Kata-kata ini bagaikan akar pohon besar: semakin dalam ia menancap, semakin kokoh pohon berdiri.
Beliau juga pernah berpesan,
_“Por ho oh sah.”_
Sabar itu tidak ada habisnya.
Seperti laut yang tak pernah kering, seperti langit yang tak pernah runtuh, begitulah sabar: ia tak bertepi. Dengan sabar, api bisa padam, luka bisa sembuh, dan jalan bisa terbuka.
Dan beliau menambahkan pula,
_“Hel luling mi he tafeng mi, madong bang om mi he’e diail so mi tofang.”_
Artinya: di luar itu ipar, tetapi di dalam rumah, kakak dan adiklah yang utama.
Beliau mengingatkan bahwa darahmu adalah saudaramu. Bila keluarga pecah, maka rumah roboh. Tetapi bila keluarga bersatu, maka gunung pun tak bisa mengalahkanmu.
*Pesan untuk Anak Cucu*
*Anak cucu, dengarlah:*
1. Jangan lepaskan sabar dari hatimu, sebab sabar adalah pelita dalam gelap.
2. Jangan lepaskan persaudaraan, sebab kakak dan adik adalah perisai kehidupanmu.
3. Jangan lepaskan adatmu, sebab adat adalah jembatan yang menghubungkanmu dengan leluhurmu.
*Penutup*
Kini, Bapak Kira Ane sudah lama pergi, tubuhnya telah kembali ke tanah. Namun namanya tetap hidup, petuahnya tetap bernafas, dan arwahnya tetap berdoa bagi anak cucunya.
Selama kalian mengulang kata-katanya, selama kalian menjaga sabar, persaudaraan, dan adat, maka Bapak Kira Ane tidak pernah hilang. Beliau hidup dalam darahmu, dalam tanah Bangpalol, dalam setiap langkah suku Kafin.
*Syair Warisan Leluhur*
Di Bangpalol pohon bertumbuh,
Akar menjalar kuat menancap.
Petuah leluhur janganlah luruh,
Bapak Kira Ane tetaplah hidup.
Sabar tak habis bagai lautan,
Tak ada ujung bagai langit biru.
Siapa yang sabar jadi penuntun,
Hidup terarah, jiwa pun baru.
Di luar ipar, di rumah saudara,
Kakak dan adik jangan dilupa.
Jika bersatu keluarga terjaga,
Gunung pun tunduk, hidup sejahtera.
Adat dijaga, sejarah diingat,
Itulah pesan untuk generasi.
Nama leluhur teruslah melekat,
Anak cucu kuat, suku berdiri.
*Mantera Leluhur Bapak Kira Ane*
Sabar tiada batas, bagaikan lautan,
Persaudaraan tiada putus, bagaikan ikatan darah.
Adat tiada hilang, bagaikan akar menancap tanah.
Nama leluhur tiada mati, hidup dalam anak cucu.
By: Majid Adang Ane
Komentar