SANG PANGLIMA DARI BANGPALOL
Lelaki itu adalah Panglima Perang Bangpalol, berdiri gagah dalam balutan tenun leluhur yang merah menyala, tanda keberanian dan darah juang yang tak pernah padam. Di tangannya, busur terbentang, anak panah terulur tegang, seakan menyatukan masa lalu dan masa kini dalam satu tarikan nafas.
Ia bukan sekadar pemanah, melainkan penjaga martabat suku, benteng kehormatan tanah leluhur. Tatapan matanya tajam, penuh wibawa, menyambut dengan khidmat sang pemimpin daerah, Bupati Alor, yang datang sebagai tamu agung.
Di sekelilingnya, alam turut menjadi saksi. Daun-daun bergoyang mengikuti irama gendang dan gong, sementara langkah-langkah adat berpadu dengan suara hati leluhur yang hidup dalam setiap dentumannya.
Inilah festival budaya Ala Baloe, bukan sekadar perayaan, melainkan ritual sakral yang menyulam persaudaraan, meneguhkan identitas, dan mengikat generasi dalam simpul kebersamaan.
Sosok Panglima Perang itu adalah api yang menjaga bara tradisi agar tak padam, suara leluhur yang berbisik kepada generasi muda:
"Jangan pernah lupakan akar tempat engkau berdiri, sebab dari sanalah kekuatanmu lahir, dan dari sanalah masa depanmu bersinar."
Komentar