Suatu Pagi di Perbatasan

Di ufuk timur perbatasan Wini–Oecusse, matahari menyingkap tirai malam dengan cahaya keemasan.
Laut beriak pelan, seolah menyambut langkah seorang pengembara — guru pedalaman yang berlayar di garis tak bernama antara dua negeri.

Di sinilah batas peta kehilangan maknanya,
karena di dada sang guru, Indonesia bukan sekadar tanah, melainkan panggilan jiwa.
Angin pagi membawa pesan dari kampung halaman — suara anak, istri, dan ibunya yang jauh di seberang,
namun hatinya tetap teguh, sebab setiap gelombang yang dihadapinya adalah ayat tentang pengabdian.

Mentari terbit bukan sekadar pertanda hari baru,
tetapi isyarat bahwa cahaya ilmu akan selalu menemukan jalannya —
menembus kabut kesunyian, menyapa wajah-wajah polos di ujung negeri.

Di atas geladak yang basah, ia menatap cakrawala dan berbisik lirih:
“Selama matahari masih terbit dari timur, aku akan terus berjalan,
membawa cahaya pengetahuan, meski langkahku jauh dari yang kucinta.”

Maka, di antara ombak dan sinar mentari,
terciptalah sebuah kisah tentang pengabdian yang tak bertepi —
kisah seorang anak bangsa yang menjadikan laut sebagai jembatan,
dan cahaya pagi sebagai saksi setia perjuangannya.

By: MZ Anne 

Komentar