KURIKULUM BERGANTI GENERASI TERUJI
KURIKULUM BERGANTI GENERASI TERUJI
Antara Janji Masa Depan dan Luka Pendidikan
Di negeri ini, pendidikan sering kali ibarat perahu yang berlayar di lautan tak menentu. Angin kebijakan bertiup silih berganti, membawa layar kurikulum ke arah yang berbeda, tanpa peta yang pasti, tanpa jangkar yang kokoh. Anak-anak bangsa menjadi penumpang yang setia, menunggu sampai di pelabuhan, meski jalannya penuh liku dan kadang tanpa arah.
Pergantian kurikulum hadir bagai gelombang yang tiada henti: kadang disebut pembaruan, kadang dinamakan penyempurnaan, namun pada hakikatnya sering menyisakan kebingungan. Guru harus kembali menyesuaikan, siswa harus kembali belajar dari awal, dan bangsa pun terus menanggung luka yang sama: sebuah masa depan yang dijanjikan, tetapi belum benar-benar ditentukan.
Pertanyaannya, sampai kapan kurikulum hanya menjadi eksperimen tanpa ujung? Sampai kapan generasi terus dipertaruhkan di atas meja percobaan kebijakan? Pendidikan semestinya menjadi cahaya yang menuntun, bukan kabut yang menyesatkan.
Pendidikan adalah jantung peradaban. Dari situlah lahir manusia yang berilmu, berakhlak, dan mampu membangun masa depan bangsa. Namun di negeri ini, jantung itu kerap berdetak dalam irama yang tidak menentu. Kurikulum sebagai panduan utama pendidikan, berubah-ubah seiring waktu, silih berganti mengikuti arah kebijakan. Sering kali, perubahan itu tidak berakar pada kebutuhan riil peserta didik, melainkan pada gelombang politik dan kepentingan yang bersifat sementara.
Pergantian kurikulum yang berulang ibarat menulis di atas pasir di tepi pantai, baru saja terbentuk, ombak berikutnya datang dan menghapusnya. Guru kebingungan, siswa kebingungan, dan orang tua pun kebingungan. Pada akhirnya, generasi muda menjadi penanggung beban terbesar dari kebijakan yang tak kunjung menemukan bentuk idealnya.
Gelombang Kurikulum yang Tak Pernah Reda
Sejarah pendidikan Indonesia penuh dengan pergantian kurikulum: mulai dari Rencana Pelajaran 1947, Kurikulum 1968, 1975, 1984, 1994, KBK 2004, KTSP 2006, Kurikulum 2013, hingga kini Kurikulum Merdeka. Setiap kurikulum hadir dengan semangat baru, jargon baru, dan harapan besar. Namun, setiap kali perubahan itu terjadi, bukan sedikit tenaga pendidik yang merasa kewalahan, dan bukan sedikit siswa yang harus kembali menyesuaikan diri dengan sistem yang asing baginya.- Guru sebagai Korban Pertama, Murid sebagai Korban UtamaGuru, yang seharusnya menjadi garda terdepan pendidikan, justru menjadi pihak yang paling terbebani. Mereka dipaksa untuk beradaptasi cepat, dengan pelatihan yang sering kali minim, bahkan tanpa fasilitas memadai. Sementara itu, murid—yang mestinya menjadi pusat perhatian—justru terseret dalam arus perubahan yang tak menentu. Mereka bagaikan tanaman muda yang dipindahkan dari satu tanah ke tanah lain, sebelum sempat berakar kuat.
- Antara Idealisme dan RealitaPergantian kurikulum sering diwarnai oleh retorika besar: meningkatkan kualitas, menyesuaikan dengan zaman, atau menyongsong revolusi industri 4.0. Namun realitas di lapangan berbeda: banyak sekolah masih kekurangan buku, teknologi, bahkan guru yang terlatih. Akhirnya, kurikulum hanya berhenti pada dokumen indah di atas kertas, sementara implementasinya jauh dari sempurna.
- Generasi yang Menjadi TaruhanPergantian kurikulum yang berulang membuat generasi muda seakan menjadi bahan percobaan. Mereka dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem yang terus berubah, tanpa pernah merasakan kestabilan pendidikan. Padahal, pendidikan sejatinya adalah perjalanan panjang yang membutuhkan konsistensi, bukan eksperimen tanpa akhir.
Sebagai penutup dari refleksi diatas, Pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan proyek lima tahunan. Kurikulum semestinya lahir dari kebutuhan nyata bangsa, bukan dari ambisi sesaat. Ia harus menjadi jalan yang lurus, bukan jalan berliku yang membuat generasi tersesat.
Kita membutuhkan kurikulum yang kokoh, konsisten, dan berakar pada nilai-nilai luhur bangsa serta tuntutan zaman. Kurikulum yang tidak hanya indah dalam teori, tetapi juga nyata dalam praktik. Kurikulum yang tidak menjadikan generasi sebagai korban, tetapi sebagai pewaris harapan.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Artinya, perubahan besar dalam pendidikan tidak akan lahir dari kebijakan yang berganti-ganti, melainkan dari tekad bangsa untuk membangun sistem yang konsisten, kokoh, dan berkeadilan.
Maka, mari kita renungkan: apakah kita akan terus membiarkan kurikulum berganti tanpa arah, ataukah kita siap membangun pendidikan yang benar-benar berakar, demi masa depan yang lebih pasti?
Begitulah kurikulum kita, bukan sekadar aturan, melainkan puisi hidup yang menunggu untuk terus ditulis, dengan tinta cinta dan keberanian.
By; Majid Adang (Guru di Pojok Negeri)

Komentar